Minggu, 05 Agustus 2012

Religius (agama) dan Spiritual (ketuhanan)


Selama ini kita selalu menganggap bahwa religius (agama) dan spiritual (ketuhanan) adalah satu konsep yang sama. Bahkan terkadang kata religious menggantikan kata sipiritual ataupun sebaliknya dalam pemahaman sehari-hari.
Religius dan spiritual adalah dua buah konsep (kata) yang berbeda. Saya tidak akan membawa anda ke arah pembahasan filsafat dalam memisahkan dan menjelaskan kedua kata ini. Saya akan memberikan ilustrasi dibawah ini, yang akan memberikan gambaran bahwa memang keduanya (spiritual dan religius) berbeda pemaknaannya.
Apakah anda seorang yang membenci seorang yang tidak beragama? Ya, itu pasti, karena negara kita memang bukan negara ateis? Tapi jika di tanyakan, apakah anda benci kepada orang yang tidak bertuhan? Pasti anda juga mengatakan ya, dan negara kita pun berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa. Tetapi sadarkan anda bahwa, yang paling parah diantara keduanya adalah pernyataan yang kedua. Padahal, itu dialami oleh kebanyakan orang, bahkan seorang yang taat dalam beragama sekalipun.

Ini adalah pertanda bahwa anda sangat rancu dalam memahami antara agama dan ketuhanan. Beberapa agama yang ada, jika kita pelajari lebih dalam, tidak mempunyai konsep ketuhanan yang jelas, bahkan tidak mempunyai konsep tuhan sama sekali. Artinya, bahwa agama dan ketuhanan itu adalah sebuah konsep yang berbeda.
Seorang yang beragama belum tentu mempunyai pengalaman spiritual. Seseorang yang rajin sholat misalnya, belum tentu bisa merasakan sisi-sisi ketahunan dalam shalatnya. Artinya orang ini hanya menjalankan shalat seperti yang diperintahkan dalam agama (syariat), tanpa menghadirkan sisi ketuhanan dalam shalatnya. Sehingga, seorang yang beragama belum tentu dapat mengontrol perilaku-perilakunya atas nama ketuhanan (spiritual).
Secara logis, agama adalah serangkaian ritual yang sudah baku dan tidak bisa keluar dari yang aturan yang sudah dibakukan itu. Sedangkan spiritual adalah perasaan dan penghayatan akan sisi-sisi ketuhanan atau sesuatu yang dianggap berkuasa diluar kuasa manusia. Jadi orang beragama dengan taat belum tentu mempunyai pengalaman spiritual, sebaliknya orang yang tidak beragama, belum tentu juga tidak pernah merasakan adanya sifat-sifat tuhan yang ada dalam kehidupannya.
Tapi jika kita mempelajari beberapa agama yang ada, tidak bisa juga dipungkiri bahwa, ada beberapa agama yang mengajarkan bagaimana menghubungkan antara pengalaman spiritual dalam bingkai ritual keagamaan. Ritual keagamaan ini dimaksudkan untuk memuja dan menghadirkan spiritual (ketuhanan). Sehingga, jika ada seseorang yang melaksanakan ritual agama, tanpa menghadirkan ketuhanan dalam ritualnya, berarti orang tersebut memisahkan antara ritual keagamaannya dengan sisi-sisi ketuhanan yang seharusnya dihadirkan. Bisa jadi orang yang taat beragama tidak bertuhan, karena dalam pelaksaan ritual keagamaannya tidak menghadirkan/merasakan sisi-sisi spiritual (ketuhanan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan anda dan kritik anda sangat berarti demi kemajuan saya terimakasih atas saran-saran dari anda semua semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua.... Amiin