Rabu, 13 Februari 2013

AGRESI dalam Psikologi Sosial

PEMBAHASAN


AGRESI

(AGGRESSION)

 

 

A. Pengertian Agresi (Menyakiti Orang Lain)

            Agresi / aggression didefinisikan sebagai perilaku fisik atau verbal yang bertujuan untuk melukai seseorang, sedangkan hostile aggression yaitu kekerasan/ agresi yang dipicu akibat kemarahan & dilakukan dengan tujuan akhirnya memang untuk melukai musuh. Sebaliknya instrumental aggression yaitu kekerasan yang dilakukan dimana fungsinya hanya sebatas sebagai sarana untuk pencapaian atau tujuan lain. Contoh hostile aggression yaitu seorang musuh yang marah & balas dendam maka tujuannya melukai & si korban terluka, sedangkan contoh instrumental aggression yaitu sebagaimana digambarkan tahun 1990, pemimpin politik menjustifikasi perang Teluk Persia tidak sebagai pertikaian atau persengketaan untuk sengaja membunuh 100 orang Irak, akan tetapi sebagai sarana pembebasan Kuwait.

Dalam psikologi dan ilmu sosial lainnya, pengertian agresi merujuk pada perilaku yang dimaksudkan untuk membuat objeknya mengalami bahaya atau kesakitan. Agresi dapat dilakukan secara verbal atau fisik. Perilaku yang secara tidak sengaja menyebabkan bahaya atau sakit bukan merupakan agresi. Pengrusakan barang dan perilaku destruktif lainnya juga termasuk dalam definisi agresi. Agresi tidak sama dengan ketegasan.
B. Jenis Agresi

Agresi adalah fenomena kompleks yang terdiri dari sejumlah perilaku dari jenis yang lebih khusus.
ü  Klasifikasi dari Moyer

Moyer (1968), menyajikan klasifikasi awal berupa tujuh bentuk agresi, dari sudut pandang biologis dan evolusi.

1.                  Agresi pemangsa: serangan terhadap mangsa oleh pemangsa.

2.                  Agresi antar jantan: kompetisi antara jantan dari spesies yang sama mengenai akses terhadap sumber tertentu seperti betina, dominansi, status, dsb.

3.                  Agresi akibat takut: agresi yang dihubungkan dengan upaya menghindari ancaman.

4.                  Agresi teritorial: mempertahankan suatu daerah teritorial dari para penyusup.

5.                  Agresi maternal: agresi dari perempuan/betina untuk melindungi anaknya dari ancaman. Ada juga agresi paternal.

6.                  Agresi instrumental: Agresi yang ditujukan untuk mencapai suatu tujuan. Agresi ini dianggap sebagai respon yang dipelajari terhadap suatu situasi.

1. Klasifikasi sekarang

Kini, ada konsensus dalam komunitas ilmiah untuk setidaknya dua kategori besar dari agresi, dikenal sebagai agresi afektif dan agresi instrumental. Penelitian empiris mengindikasikan bahwa klasifikasi ini adalah perbedaan yang penting, baik secara psikologis atau fisiologis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang cenderung melakukan agresi afektif mempunyai IQ yang lebih rendah dibanding yang cenderung melakukan agresi instrumental.
2. Evolusi agresi

Seperti kebanyakan perilaku lainnya, agresi dapat dilihat sebagai kemampuan yang bisa membantu binatang untuk selamat dan bereproduksi. Binatang menggunakan agresi untuk memperluas dan mempertahankan teritorial, termasuk berbagai sumber kehidupan lainnya seperti makanan, air, dan pasangan hidup. Peneliti telah berteori bahwa agresi dan kemampuan membunuh adalah hasil dari evolusi kita di masa lalu.
3. Agresi pada manusia

Walaupun manusia mirip dengan binatang dalam beberapa aspek dari agresi, tapi ada perbedaan dalam kompleksitas dari agresinya akibat faktor kebudayaan, moral, dan situasi sosial. Sejumlah penelitian telah dilakukan dalam bidang ini. Alkohol, obat-obatan, rasa sakit dan ketidaknyamanan, frustrasi, dan umpatan dalam media massa hanyalah sebagian faktor yang berpengaruh terhadap agresi pada manusia.

       C. LATAR BELAKANG TINJAUAN PSIKOLOGIS


            Latarbelakang  interaksi social dari tinjauan psikologis dikemukakan dengan jelas oleh Michael Arggle dengan menunjukan  teori-teori yang kuat.

Menurut beliau, latar belakang interaksi sosial dapat di terangkan sebagai berikut:

1)      Latarbelakang interaksi sosial yang berasal dari luar manusia/ the social  interaction of non –human primates.

Latarbelakang interakksi sosial ini di ambil oleh Michael Arggle dari kehidupan binatang yang analog / yang mirip dengan kehidupan manusia. Latarbelakang  interaksi sosial ini meliputi:

Ø  Agression / penyerangan

 Kehidupan binatang tidak luput dari penyerangan oleh binatang lain sehingga hal ini memaksa binatang untuk hidup berkelompok-kelompok. Manusiapun sering kali menghadapi penyerangan  ini oleh manusia lain  sehingga hal ini  mengharuskan manusia untuk hidup dan selalu  berinteraksi dengan kelompok.

2)      Latar belakang interaksi sosial dari perkembangan dorongan sosial manusia/the social interaction background of the development of human social drives.

Latar belakang interaksi social tersebut mencoba menganalisis segala sesuatu dorongan yang berasal dari individu yang menyebabkan terjadinya interaksi social antar individu dalam kehidupan. Ini meliputi :

          a.  Agression/ Penyerangan

Kehidupan manusia tidak lepas dari ancaman pihak lain sehingga manusia berinteraksi social antar sesamanya. Hasil interaksi social dalam upaya mengatasi penyerangan ini dapat berupa pemberian bantuan, kerja sama, dan kehidupan kelompok.



D. Frustasi dan Agresi

Sebagaimana telah diuraikan, prasangka social dapat menjelma kedalam tindakan-tindakan diskriminatif dan agresif terhadap golongan yang diprasangkai. Dalam menguraikan alasan-alasan tindakan-tindakan agresif itu, para ahli psikologi telah menjelaskannya dengan sebuah teori yang disebut teori Frustasi yang menimbulkan agresi. Orang-orang yang mengalami frustasi apabila maksud-maksud dan keinginan-keinginan yang diperjuangkan dengan intensif mengalami hambatan atau kegagalan. Sebagai akibat dari frustasi itu, mungkin timbul perasaan-perasaan jengkel atau perasaan-perasaan agresif. Perasaan-perasaan agresif ini kadang-kadang dapat disalurkan kepada upaya yang positif tetapi sering kali perasaan tersebut meluap-luap dan mencari outlet-nya, jalan keluarnya, sampai dipuaskannya dengan tindakan-tindakan yang agresif. Apabila seseorang secara pribadi mengalami frustasi yang ingin dipuskannya secara agresif, ia mungkin menendang kursinya, atau memukul anjingnya, atau memperlihatkan kejengkelannya dengan cara lain. Akan tetapi apabila segolongan orang mengalami frustasi tertentu yang menimbulkan agresi, maka dengan sangat mudah perasaan-perasaan agresif tersebut dihadapkan kepada segolongan lain yang diprasangkainya yang lalu diserangnya secara kurang atau lebih intensif. Demikianlah kiranya kejadian-kejadian psikis yang membelakangi tindakan-tindakan diskriminatif atau tindakan agresif terhadap orang-orang dari golongan yang dikenai prasangka social. Teori ini disebut juga scape-goatism atau teori mencari kambing hitam.

Jelas kiranya bahwa tindakan-tindakan agresif semacam ini bukan lagi berdasarkan alasan-alasan yang rasional melainkan berdasarkan perasaan-perasaan tertentu (agresivitas amarah, kejengkelan) yang tidak dapat disalurkan secara wajar, tetapi meluap keluar mencari kambing hitamnya dan menyerangnya. Dan, kambing hitam itu biasanya golongan-golongan yang dikenai prasangka sosial.

a.    Apakah agresi adalah respon terhadap frustrasi?
Frustrasi yaitu segala sesuatu yang merintangi pencapaian goal kita. Frustrasi tumbuh ketika motivasi kita untuk mencapai goal sangat kuat & ketika kita diharapkan bergratifikasi atau untuk merasa puas.

1. Revisi Teori Frustrasi-Agresi

            Tes laboratorium tentang frustrasi-agresi menunjukkan hasil yang beda, terkadang frustrasi meningkatkan agresifitas, terkadang tidak. Misal frustrasi yang dapat dipahami alasan penyebabnya, seseorang maksimal akan merasa tersinggung atau terlukai tidak sampai bertindak agresi.

2. Apakah uang dapat mengurangi frustrasi?

            Kita dapat menganalisis 3 fakta berikut ini:

   (1) orang dengan penghasilan sedikit akan membuat mereka meraih kesenangan hidup juga sdikit,

   (2) dengan perkembangan ekonomi ang pesat, dekade terakhir ini memberikan pendapatan 2 kali lipat. Faktanya dengan pendapatan tsb kebutuhan orang semakin tercukupi dengan tidak menutup kemungkinan adanya rasa kebahagiaan yang meningkat,

   (3) banyak orang yang memiliki uang, harta, benda tetapi mereka tidak menikmati & bahagia tetapi justru menambah beban hidup. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam keadaan tertentu uang dapat mengurangi frustrasi tapi dalam keadaan yang lain justru menambah frustrasi.



 E. Teori Agresi

            Untuk menganalisis hostile & instrumental aggression, psikolog sosial telah memfokuskan pada 3 ide pokok:

   1) adanya agresi bawaan atau instink agresi,

   2) agresi sebagai respon natural terhadap frustasi, &

   3) perilaku agresi yang terpelajari.



1. Agresi itu bawaan sejak lahir


            Para filsuf telah memperdebatkan bahwa pada dasarnya manusia itu alamiah memiliki sifat ramah tetapi juga memilki sifat kejam yang sewaktu-waktu berpotensi meledak menjadi kebrutalan. Pandangan pertama dari filsuf Perancis Jean Jacque Rousseau yang menuduh masyarakat sekitar, sebagai faktor utama kejahatan sosial bukan alamiah. Thomas Hobbes, filsuf dari Inggris berpendapat bahwa hukum masyarakat justru sangat dibutuhkan untuk mengendalikan kebrutalan manusia.

a. Teori instink

Teori ini mengatakan bahwa agresi itu muncul dari bawaan, pola perilaku yang tidak terpelajari yang diekspresikan oleh semua anggota dari suatu spesies.



b.  Pengaruh saraf

          Karena agresi adalah perilaku yang kompleks, tak seorangpun mampu memeriksa otak utnuk mengontrolnya. Akan tetapi, para peneliti telah menemukan bahwa baik hewan maupun manusia memiliki sistem saraf yang merupakan faktor untuk memfasilitasi agresi. Ketika saraf ini sedang aktif di otak, kemarahan meningkat, akan tetapi jika tidak aktif kenmarahan akan menurun.



c. Pengaruh gen

            Keturunan dapat berpengaruh terhadap kesensitifan sistem saraf menuju ke sifat agresi. Pada percobaan sepasang anak kembar yang diwawancarai dalam keadaan terpisah, hasilnya kedua anak tersebut ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama “apakah memiliki sifat agresi?” ternyata jawabannya “ya” meskipun kadarnya tidak sama.

d. Pengaruh biokimia

            Biokimia yang telah merasuk ke sistem peredaran darah kita juga akan berpengaruh terhadap kesensitifan stimulasi sifat agresif kita contoh eksperimen laboratorium & data kepolisian mengindikasikan bahwa ketika orang  diprovokasi alkohol akan cenderung membangkitkan perilaku agresinya.



2. Agresi Dipelajari Dari Perilaku Sosial

            Teori pembelajaran sosial (social learning theory) yaitu kita mempelajari perilaku sosial dengan cara mengamati & meniru contoh dengan cara dihadiahi (rewarded) & diberi hukuman (punished). Dengan demikian perilaku agresi dapat diadopsi dari orang lain atau melihat model dengan kenyataan yang ada disekitar kita. Seorang kriminal bertindak agresi karena menonton adegan di TV atau melalui film

    Pengaruh-2 pada Agresi

            Dalam kondisi yang bagaimana kita bertindak agresi?

        Insiden aversif: Faktor penyebab agresi tidak hanya frustrasi tetapi beberapa pengalaman aversif seperti pain (rasa sakit), uncomfortable heat (tekanan yang tidak nyaman), attack (serangan), atau overcrowding (kesesakan).

2 Pain

            The pain-attack reaction yaitu ketika manusia atau hewan secara spontan bereaksi ketika mendapat serangan atau sengatan dari pihak luar misal tersengat arus listrik atau terkena dampak yang menyakitkan diri, maka mereka secara spontan akan membalas menyerang. Sebagai contoh ketika dalam pertandingan tinju kelas berat antara Evander Holyfield dan Mike Tyson. Sudah 2 ronde Mike Tyson kalah dan merasa “panas” karena tidak rela dikalahkan oleh lawan yang dianggap masih ringan, untuk membalas rasa sakit hati dan waktu itu kebetulan Holyfield menubrukkan kepalanya ke lawannya, maka secara spontan Tyson bereaksi dengan cara menggigit telinga lawannya.

     Heat (iklim yang panas)

            Variasi iklim yang berganti-2 juga dapat berpengaruh terhadap perilaku. Bau yang menyengat, asap rokok, dan polusi udara semuanya dapat berhubungan dengan perilaku agresif (Rotton & Frey, 1985). Berdasarkan studi, lingkungan yang sangat berpengaruh dan sangat mengganggu yaitu lingkungan yang beriklim panas.

Attack (serangan)

            Ketika seseorang merasa disakiti, dilukai, ataupun sekedar dihina perlakuan tersebut sangat menyinggung perasaan, maka semua ini akan memicu seseorang untuk melakukan serangan.

 Crowding

            Yaitu perasaan subyektif yang merasa tidak memiliki cukup tempat atau ruang untuk bertempat tinggal. Dalam keadaan seperti ini seseorang akan mudah stres.

   Akibat dari stres inilah orang akan mudah tersinggung dan cepat emosi yang bisa berbuntut tindakan agresi.



3. Pengaruh Media: Pornografi dan Kekerasan Seksual


            Media sebagai sarana komunikasi memiliki banyak aspek positifnya, namun aspek negatif juga turut mewarnai. Salah satunya adalah maraknya pornografi dan kekerasan seksual yang ditayangkan lewat media, misal kekerasan dan keerotiasan yang diperankan artis dalam sebuah film. Pornografi yang menggambarkan kekerasan seksual sebagai kenikmatan bagi korban, hal ini akan meningkatkan persepsi adanya penerimaan coercion/ kekerasan dalam berhubungan seksual.



–        Pengaruh Media: Televisi

            Kita dapat mengamati dengan menonton model agresifitas dapat memicu keinginan anak berperilaku agresi & dapat belajar cara-2 baru berperilaku agresi. Dapat  juga diamati bahwa setelah melihat kekerasan seksual, beberapa orang laki-2 pemarah akan semakin kejam terhadap pasangannya ketika berhubungan seksual. Begitu juga melalui televisi berbagai karakter kekerasan dapat dipelajari dengan cara menontonnya.

            Menonton kekerasan dan kebrutalan di TV tidak selamanya membawa dampak buruk, salah satu kebaikannya adalah adanya media catharsis yaitu ketika menonton drama yang tragis memungkinkan orang untuk melepaskan emosinya yang tertahan, selain itu dengan membayangkan seandainya agresi itu terjadi pada dirinya sendiri pasti akan sangat mengerikan. Hal ini memungkinkan penonton yang berniat berperilaku buruk akan diurungkan.

•         Dampak TV pada perilaku


            Berdasarkan studi ditemukan bahwa anak-2 semakin banyak menonton TV kekerasan, maka tingkat agresifitas anak juga akan meningkat. Kemungkinan seorang anak yang agresif atau yang berintelegensi rendah lebih suka menonton program-2 TV yang ada kekerasannya sehinggga memicu anak untuk bertindak secara agresif. Dampak TV pada perilaku juga dapat diamati pada maraknya aneka ragam kekerasan, bahkan jumlah pembunuh semakin meningkat setelah kehadiran TV.



•         Dampak TV pada pola pikir

            Dampak TV tidak hanya pada perilaku seseorang tapi juga pada pola pikirnya. Berdasarkan survei, anak 7-11 tahun di Amerika yang termasuk penonton TV “kelas berat”, ketika menonton kekerasan akan memiliki rasa takut lebih daripada penonton “kelas ringan”. Penonton kelas berat akan berpikir  dengan rasa khawatir “jangan-2 ada orang yang berniat jahat masuk ke rumah mereka atau ketika mereka keluar rumah ada penjahat yang akan menyakiti”. Orang dewasa yang sering menonton kriminal juga akan berpikir bahwa New York adalah tempat yang berbahaya



F. Ada 2 Hal Yang Dapat Mengurangi Agresi



–        Catharsis


            Katarsis atau penyucian diri dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengurangi perilaku agresi. Sebagaimana penjelasan di atas bahwa konssep katarsis yaitu melepaskan energi-2 emosi yang terpendam sekaligus penyucian diri karena dengan berimajinasi jika sikap agresi akan terjadi pada dirinya, ia pasti menderita. Dengan berpikir demikian seseorang yang hendak bertindak agresi dapat diurungkan.

–        A learning social approach


            Jika perilaku agresif dapat dipelajari maka ada kemungkinan untuk mengontrolnya. Hampir semua agresifitas bersifat dari desakan hati, agresif yang memanas, karena hasil dari sebuah argumen, hinaan, atau serangan. Dengan demikian kita dapat mencegah sebelum agresifitas itu terjadi. Kita harus belajar strategi-2 resolusi konflik non-agresi. Hukuman bagi pelaku agresif tidak terlalu efektif karena strategi ini akan berhasil hanya dibawah situasi tertentu.



KESIMPULAN



Dari pembahasan  diatas, penulisn dapat mengambil kesimpulan bahwa  Agresi dapat didefinisikan sebagai prilaku fisik atau verbal yang bertujuan untuk melukai  seseorang atau menyakiti orang lain. Contoh aggression yaitu : seorang musuh yang  marah  dan balas dendam maka tujuannya melukai dan sikorban terluka.
Jenis Agresi

Agresi adalah fenomena kompleks yang terdiri dari sejumlah perilaku dari jenis yang lebih khusus. Klasifikasi dari Moyer

Moyer (1968), menyajikan klasifikasi awal berupa tujuh bentuk agresi, dari sudut pandang biologis dan evolusi.

    Agresi pemangsa,
    Agresi antar jantan,
    Agresi akibat takut,
    Agresi territorial,
    Agresi maternal,
    Agresi instrumental.


1. Klasifikasi sekarang,
2. Evolusi agresi,
3. Agresi pada manusia.

Dilihat dari latar belakang tinjauan psikologis dapat di bedakan menjadi dua :

1.      Aggression / penyerangan dilihat  segi binatang

2.      Aggression / penyerangan  dilihat dari latar belakang manusia.

Didalam agresi terdapat frustasi,  yang dimana frustasi tersebut adalah segala sesuatu  yang menghalangi pencapaian goal ( tujuan ) kita. Frustasi tumbuh disaat motivasi kita untuk mencapai goal (mencapai tujuan) sangat kuat dan disaat kita diharapkan bergratifikasi atau merasa puas, dalam  agresi  frustasi terdapat teori-teori frustasi diantaranya adalah :

1.      teori agresi

2.      teori insthink.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi agresi, diantaranya adalah:

1.      pengaruh syaraf

2.      pengaruh gen

3.      pengaruh biokimia.



Selain  pengaruh diatas ada beberapa pengaruh  agresi berdasakan kondisi aversif:

1.      pain 

2.      heat (iklim yang panas )

3.      attack (serangan )

4.      crowding

beberapa pengaruh lainnya  adalah seperti :

1. pengaruh pornografi dan kekerasan seksual

2. Pengaruh televisi

Contoh  dampak dari televisi tersebut  adalah pada pola pikir  masyarakat umum, orang dewasa yang sering menonton kriminal  menyebabkan  pola  pikirnya menjadi  tidak realistis atau negativ thinking .

 Beberapa hal yang dapat mengurangi agresi diantaranya:

1.      chatarsis

2.      a learning social approuch .



DAFTAR PUSTAKA



Prof. Drs. Koentjoro, MBSc, Ph. D, (2009). Psikologi Sosial. DIY

(Daerah Istimewa Yogjakarta) : Universitas Gadjah Mada.



Gerungan, W.A., (2009). Psikologi Sosial. Bandung : PT. Refika Aditama.



Santoso, Slamet, (2010). Teori-Teori Psikologi Sosial.  Bandung :

            PT Refika Aditama.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan anda dan kritik anda sangat berarti demi kemajuan saya terimakasih atas saran-saran dari anda semua semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua.... Amiin