Selasa, 01 Januari 2013

PENELITIAN KUALITATIF

BAB I
PENDAHULUAN


A.   LATAR BALAKANG MASALAH
Setiap kegiatan penelitian sejak awal sudah harus ditentukan dengan jelas pendekatan/desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar penelitian tersebut dapat benar-benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut metodologi penelitian, disamping pemahaman hasil penelitian  yang akan lebih  proporsional apabila pembaca mengetahui pendekatan yang diterapkan.
Obyek dan masalah penelitian memang mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan mengenai pendekatan, desain ataupun metode penelitian yang akan diterapkan. Tidak semua obyek dan masalah penelitian bisa didekati dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan pemahaman pendekatan lain yang berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti tidak pas atau kurang sempurna dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat digunakan, atau bahkan mungkin menggabungkannya.
Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut               paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.  Dari segi peristilahan para akhli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda meskipun mengacu pada hal yang sama, untuk itu guna menghindari kekaburan dalam memahami kedua pendekatan ini, berikut akan dikemukakan penamaan  yang  dipakai  para akhli dalam penyebutan kedua istilah tersebut seperti terlihat dalam tabel  1 berikut  ini :





Tabel 1.
Quantitative and Qualitative Research : Alternative Labels
Quantitative
Qualitative
Authors
Rasionallistic
Naturalistic
Guba &Lincoln (1982)
Inquiry from the Outside
Inquiry from the inside
Evered & Louis (1981)
functionalist
Interpretative
Burrel & Morgan (1979)
Positivist
Constructivist
Guba (1990)
Positivist
Naturalistic-ethnographic
Hoshmand (1989)
Sumber : Julia Brannen (Ed): 1992 : 58)
B.   Rumusan Masalah
1.    Apakah pengertian dari metode penelitian  kualitatif ?
2.    Bagaimanakah cara menganalisis penelitian kualitatif ?
3.    Bagaimana cara mengambil sample dan populasi kualitatif ?
4.    Apa saja metode penelitian kualitatif ?
5.    Bagaimana cara mencari masalah dan contoh judul penelitian kulitatif ?
C.   Tujuan masalah
1.    Untuk memenuhi tugas mata kuliah penelitian pendidikan.
2.    Untuk mengetahui pengertian dari metode penilitaian kualitatif.
3.    Untuk mengetahui cara menganalisis penelitian kualitatif.
4.    Untuk mengetahui metode-metode penelitian kualitatif.
5.    Dapat mengetahui cara mencari masalah dan contoh judul penelitian kulitatif.

D. Manfaat penulisan
1. Terpenuhinya salah satu tugas Mata Kuliah Penelitian Pendidikan.
2. Dijadikan sarana dalam proses belajar membuat karya ilmiah.
3. Bertambahnya wawasan mengenai pembahasan Penelitian Kualitatif.


BAB II
PEMBAHASAN

PENELITIAN KUALITATIF
(QUALITATIF RESEARCH)

A. Pengertian Penelitian Kualitatif

            Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada quality atau hal yang penting dari sifat suatu barang/jasa. Hal terpenting dari suatu barang atau jasa berupa kejadian/fenomena/gejala sosial adalah makna dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi suatu pengembangan konsep teori. Jangan sampai sesuatu yang berharga tersebut berlalu bersama waktu tanpa meninggalkan manfaat. Penelitian kualitatif dapat didesain untuk memberikan sumbangannya terhadap teori, praktis, kebijakan, masalah-masalah sosial dan tindakan.
            Metode penelitian kualitatif dinamakan sebagai metode baru, kerena popularitasnya belum lama, dinamakan metode postpositivistik karena dilandaskan pada filsafat postpositivisme. Metode ini disebut juga sebagai metode artistik, karena proses penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola), dan disebut sebagai metode interpretivekarena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap dat yang ditemukan di lapangan. Untuk selanjutnya dalam metode itu disebut metode kuantitatif dan kualitatif. Metode penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meleliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitan, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
            Filsafat positivisme memandang realitas/gejala/fenomena itu dapat diklasifikasikan, relatif tetap, konkrit, teramati, terukur, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat. Penelitian pada umumnya dilakukan pada populasi atau sampel tertentu yang representatif. Proses penelitian bersift deduktif, dimana untuk menjawab rumusan masalah digunakan kosep atau teori sehingga dapat dirumuskan hipotesis. Hipotesis tersebut selanjutnya diuji melalui pengumpulan data lapangan. Untuk mengumpulkan data digunakan instrumen penelitian. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif atau inferensial sehingga dapat disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti atau tidak. Penelitian random, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi yang mana sampel tersebut diambil.
            Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting); disebut juga sebagai metode etnographi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya; disebut sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif.
            Filsafat postpositivisme sering juga disebut sebagai paradigma interpretif dan konstruktif, yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh, komplek, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif (reciprocal). Penelitian dilakukan pada obyek yang alamiah. Obyek yang alamiah adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak mempengaruhi dimanika pada obyek tersebut. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrumen, yaitu peneliti itu sendiri. Untuk dapat menjadi instrumen, maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret, dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap situasi sosial yang diteliti, maka teknik pengumpulan data bersifat triangulasi, yaitu menggunakan berbagai teknik pengumpulan data secara gabungan/simultan. Analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarka fakta-fakta yang ditemukan di lapangan dan kemudian dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai dibalik data yang tampak. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna. Generalisasi dalam penelitian kualitatif transferability.
            Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawanya adalah eksperiment) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pegumpulan data  dilakukan secara trangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

            Suatu penelitian kualitatif dieksplorasi dan diperdalam dari suatu fenomena sosial atau suatu lingkungan sosial yang terdiri atas pelaku, kejadian, tempat dan waktu. Setting sosial ini dapat di gambarkan sebagai berikut.

Text Box: Fenomena
Sosial
                                waktu                                                   tempat



                                pelaku                                                   kejadian
                                              Gambar 2.1 Sosial Setting

            Mengartikan gambar tersebut, secara sederhana dapat dinyatakan bahwa melakukan penelitian kualitatif adalah mengembangkan pertanyaan dasar tentang apa dan bagaimana kejadian itu terjadi, siapa yang terlibat dalam kejadian tersebut, kapan kejadiannya, dan dimana tempat kejadiannya. Untuk mendapatkan hasil penelitian kualitatif yang tepercaya masih dibutuhkan beberapa persyaratan yang harus diikuti sebagai suatu pendekatan kualitatif, mulai dari syarat data, cara/teknik pencarian, pengolahan dan analisisnya.

Penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti ingin mengeksplor fenomene-fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan yang bersikap deskriptif seperti proses suatu langkah kerja, formula suatu resep, pengertian-pengertian tentang suatu konsep yang beragam, karakteristik suatu barang dan jasa, gambar-gambar, gaya-gaya, tata cara suatu budaya, model fisik atau artifak dan lain sebagainya. Berg (2007:3) menyatakan dalam definisinya bahwa : “Qualitative Research (QR) thus refers to the meaning, consepts, definitions, , characteristics, methapors, simbols, and descriptians of things”. Pendekatan kualitatif cenderung mengarah pada penelitian yang bersifat naturalistik fenomenologis dan penelitian etnografi. Karenanya , sering kali penelitian kualitatif dipertukarkan dengan penelitian naturalistik atau naturalistic inquiry dan etnografi dalam antropologi kognitif (Mulyana, 2003).

            Denzim dan Lincoln ( Moleong, 2007 : 5 ), penellitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Dengan berbagai karakteristik khas yang dimiliki, penelitian kualitatif memiliki keunikan tersendiri.

            Creswell (1998) mengemukakan “qualitaive research is an inquiry procces of understanding based on distinct methological traditions of inqury that explore social or human problem. The researcher builds a complex, holistic pictire, analyzes words, reports detailed views of informants, and conducts the study in natural setting. Penelitian kualitatif adalah suatu proses inquiry tentang pemahaman berdasar pada tradisi-tradisi metodologis terpisah; jelas pemeriksaan bahwa menjelajah suatu masalah sosial atau manusia. Peneliti membangun suatu kompleks, gambar holistik, meneliti kata-kata, laporan-laporan memerinci pandangan-pandangan dari penutur asli, dan melakukan studi di suatu pengaturan yang alami.

            Sutau penelitian kualitatif dirancang agar hasil penelitiannya memliki kontribusi terhadap teori. Apa yang diangkat dari fenomena yang terjadi menjadi bahan bagi ilmuwan untuk menjadi bahan penyusunan teori baru. Misalnya, banyak orang belum tahu bagaimana konsep visionary leadership di Sekolah lalu peneliti mengeksplorasi suatu sekolah yang dianggap orang dan diakui pemerintah sebagai sekolah yang memiliki kepemimpinan yang kuat dan berorientasi masa depan. Diperolehlah beberapa pengetahuan baru tentang konsep visionary leadership hasil praktik terbaik di lapangan yang akan diangkat menjadi suatu teori baru kepemimpinan.

            Dalam praktik pendidikan masih terdapat konsep-konsep atau aturan-aturan baru yang belum sepenuhnya dipahami para praktisi, dan peneliti mencoba mengurai kembali konsep-konsep yanng masih abstrak tersebut dan menbangun suatu paradigma baru yang lebih tersusun secara rinci teknik operasionalisasinya, strategi, kebijakan, generalisasi, konsep, dan teori. Misalnya tentang kebijakan pembiayaan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan Permendiknas No 47/48 tahun 2008.

            Penelitian kualitatif juga sering kali digunakan untuk maksud merevisi dan transformasi sejarah, mengurangi ketidaktahuan akan sejarah, termasuk juga pengalaman dari kelompok etnik dan ras, tingkatan sosial serta gender.

            Suatu contoh penelitian kualitatif yang dapat dipelajari dari judul-judul penelitian ini :
1.     Pengembangan model pembaharuan pendidikan melalui penerapan ICT pada Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat;
2.     Meningkatkan kualitas kinerja personil melalui aplikasi valuebased leadership yang dilakukan Pemda Kabupaten Purwakarta;
3.     Merancang master plan pendidikan berwawasan kewilayahan kabupaten Bandung;
4.     Mengembangkan model instrumentasi penilaian kinerja kepala sekolah;
5.     Membangu budaya sekolah efektif pada sekolah-sekolah SBI di Kota Bandung;
6.     Studi kebijakan School Based Management pada SMAN 3 Bandung;


            Penellitian kualitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang mengungkap situasi sosial tertentu dengan mendeskripsikan kenyataan secara benar, di bentuk oleh kata-kata berdasarkan teknik pengumpulan dan analisis data yang relavan yang diperoleh dari situasi yang alamiah.

            Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak hanya sebagai upaya mendeskripsikan data tetapi deskripsi tersebut hasil dari pengumpulan data yang sohih yang dipersyaratkan kualitatif yaitu wawancara mendalam, obsevasi partisipasi, studi dokumen, dan dengan melakukan triangulasi. Juga deskripsinya berdasakan analisis data yang sohih juga mulai dari displey datanya, reduksi data, refleksi data, kajian emic dan etik terhadap data dan sampai pada pengambilan kesimpulan yang harus memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi berdasarkan ukuran dependability, Credibility, Transferability, dan confirmability.

B. MASALAH, FOKUS JUDUL PENELITIAN, DAN TEORI DALAM PENELITIAN KUALITATIF

  1. Masalah Dalam Penelitian Kualitatif
Setiap penelitian baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif selalu berangkat dari masalah. Namun terdapat perbedaan yang mendasar antara “masalah” dalam penelitian kuantitatif dan “masalah” dalam penelitian kualitatif. Kalau dalam penelitian kuantitatif, “masalah” yang akan di pecahkanmelalui penelitian harus jelas, spesifik, dan di anggap tidak berubah, tetapi dalam penelitian kualitatif “masalah” yang di bawa oleh peneliti masih remang-remang, bahkan gelap komplek dan dinamis. Oleh karena itu, “masala” dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara, tentatif dan akan berkembang atau bersanti setelah peneliti berada di lapangan.
Dalam penelitian kualitatif, akan terjadi tiga kemungkinan terhadap “masalah” yang dibawa oleh peneliti dalam penelitian. yang pertama masalah yang dibawa peneliti tetap, sehingga sejak awal sampai akhir penelitian sama. Dengan demikian judul proposal dengan judul laporan penelitian sama. Yang kedua “masalah” yang dibawa peneliti setelah memasuki penelitian berkembang yaitu memperluas atau memperdalam masalah yang telah disiapkan. Dengan demikian tidak terlalu banyak perubahan, sehingga judul penelitian cukup disempurnakan. yang ketiga “masalah” yang dibawa peneliti setelah memasuki lapangan berubah total, sehingga harus “ganti” masalah. Dengan demikan judul proposal dengan judul penelitian tidak sama dengan judulnya duganti. Dalam institusi tertentu, judul yang diganti ini sering mengalami kesulitan administrsi. Oleh karena itu institusi yang menangani penelitian kualitatif, harus mau dan mampu menyesuaikan karakteristik masalah kualitatif ini.
Peneliti kualitatif yang merubah masalah atau ganti judul penelitiannya setelah memasuki lapangan penelitian atau setelah selesai merupakan peneliti kualitatif yang lebih baik, karena ia di pandang mampu melepaskan apa yang telah difikirkan sebelumnya, dan selanjutnya mampu melihat fenomena secara lebih luas dan mendalam sesuai dengan apa yang terjadi dan berkembang pada situasi sosial yang diteliti. Kemungkinan masalah sebelum dan sesudah kelapangan dalam penelitian kualitatif dapat digambarkan sebagai berikut :









Masalah sebelum                                                    Masalah setelah peneliti
peneliti masuk lapangan                                        masuk lapangan


 


                                                                        












 









Gambar.1.1 Kemungkinan masalah sebelum  dan sesuadah peneliti memasuki lapangan.

Terdapat erbedaan antara masalah dan rumusan masalah. seperti telah dikemukakan bahwa, masalah adalah merupakan penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi. sedangkan rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang disusun berdasarkan masalah yang harus, dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Dalam usulan penelitian, sebaiknya masalah tersebut perlu ditunjukan dengan data. Misalnya ada masalah tentang kualitas SDM yang masih rendah, maka perlu ditunjukan data kualitas SDM tersebut, melalui Humen Development Index misalnya. Masalah kemiskinan perlu ditunjukan data tentang jumlah penduduk yang miskin, masalah korupsi perlu dtunjukan jumlah koruptor, dst.
            Data tentang masalah bisa berasal dari dokumentasi hasl penelitian, pengawasa, evaluasi, pengamatan pendahuluan, dan pernyataan orang-orang yang dipercaya.



  1. Fokus Penelitian
Salah satu asumsi tentang gejala dalam penelitian kuantitatif adalah bahwa gejala dari suatu objek itu sifatnya tunggal dan parsial. Dengan demikian berdasarkan gejala tersebut peneliti kuantitatif dapat menentukan variabel-variabel yang akan diteliti. Dalam pandangan penelitian kualitatif, gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapakan penelitiannya hanya berdasarkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang diteliti yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor) dan akivitas (activiti) yang berinteraksi secara sinergis.
Karena terlalu luasnya maslah, maka dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan membatasi penelitian dala satu atau lebih variabel. Dengan demikian dalam penelitian kuantitatif ada yang disebut batasan masalah. Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan fokus, yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum. Batasan masalah dan fokus dapat digambarkan seperi gambar 1.2 a dan 1.3 b berikut.
Obyek penelitian
12 variabel
A
B
C
D
E
F
G
F   
G
H
I
J
Dibatasi menjadi dua
A dan E

A
E

Gambar 1.2 a. Penelitian kuantitatif, membuat pembatasan masalah

Pembatasan dalam penelitian kuantitatif  lebih didasarkan pada tingkat kepentingan, urgensi dan feasebilitas masalah yang akan dipecahkan, selain juga faktor keterbatasan tenaga, dana dan waktu. Suatu masalah dikatakan penting apabila masalah tersebut tidak dipecahkan melalui penelitian, maka akan semakin menimbulkan masalah baru. Masalah dikatakan urgen (mendesak) apabila masalah tersebut tidak segera dipecahkan melalui penelitian, maka akan kehilangan berbagai kesempatan mengatasi. Masalah dikatakan feasible apabila terdapat berbagai sumber daya untuk memecahkan masalah tersebut. Untuk menilai masalah tersebut penting, urgen, feasible, maka perlu dilakukan melalui analisis masalah.



























Flowchart: Extract: Situasi Sosial
KS
Aktivitas (At)









                              
                            Orang/Aktor (A)                                          Tempat (P)

Situasi sosial dikategorikan menjadi KS1, KS2, KS3
Text Box: At                              
Penelitian memfokuskan pada Situasi Sosial 2





A
 



 





P
 
A
 
  Gambar 1.2b. Menentukan Fokus (satu domain)

            Dalam mempertajam penelitian, peneliti kualitatif menetapkan fokus. Spradley menyatahkan bahwa “ A focused refer to a single culcural domain or a few related domains” maksudnya adalah bahwa, fokus itu merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Dalam penelitian kualitatif, penentuan fokus dalam proposal lebih didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari situasi sosial (lapangan).
Kebaruan informasi itu bisa berupa upaya untuk memahami secara lebih luas dan mendalam tentang situasi sosal, tetapi juga ada keinginan untuk menghasilkan hipotesis atau ilmu baru dari situasi sosial yang diteliti. Fokus yang sebenarnya dalam penelitian kualitatif diperoleh setelah peneliti melakukan grand tour observatian dan grand tour question atau yang disebut dengan penjajahan umum. Dari penjajahan umum ini penliti akan memperoleh gambaran umum menyeluruh yang masih pada tahap permukaan tentang situasi sosial. Untuk dapat memahami secara lebih luas dan mendalam, maka diperlukan pemilihan fokus penelitian.
            Spradley dalam Sanapiah Faisal (1988) mengemukakan empat alternatif untuk menetapkan fokus, yaitu :
  1. Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan oleh informan
  2. Menetaokan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizing domain
  3. Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk pengembangan iptek
  4. Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori-teori yang telah ada

  1. Bentuk Rumusan Masalah
Berdasarkan lefel of explanation suatu gejala, maka secara umum terdapat tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif, komparatifdan assosiatif.
  1. Rumusam masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan masalah.
  2. Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks sosial atau domain satu dibandingkan dengan yang lain.
  3. Rumusan masalah assosiatif atau hubungan adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain satu dengan yang lainnya. Rumusan masalah assosiatif dibagi menjadi tiga yaitu, hubungan simetris, kausal, dan reciprocal atau interaktif. Hubungan simetris adalah hubungan suatu gejala yang munculnya bersamaan sehingga bukan merupakan hubungan sebab akibat atau interaktif. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Selanjutnya hubungan reciprocal adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam penelitian kualitatif hubungan yang diamati atau ditemukan adalah hubungan yang bersifat reciprocal atau interaktif.

Dalam penelitian kuantitatif, ketiga rumusan masalah tersebut terkait dengan variabel penelitian, sehingga rumusan masalah penelitian sangat spesifik, dan akan digunakan sebagai panduan bagi peneliti untuk menentukan landasan teori, hipotesis, instrumen, dan teknik analisis data.
            Dalam penelitian kualitatif seperti yang telah dikemukakan, rumusan masalah yang merupakan fokus penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk lapangan atau situasi sosial tertentu. Namun demikian setiap peneliti baik peneliti kuantitatif maupun kualitatif harus membuat rumusan masalah. Pertanyaan penelitian kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dalam kaitannay dengan aspek-aspek lain (in context). Peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif, pada tahap awal penelitiannya, kemungkinan belum memiliki gambaran yang jelas tentang aspek-aspek masalah yang akan ditelitinya. Ia akan mengembangkan fokus penelitian sambil mengumpulkan data. Proses seperti ini disebut “emergent design” (Lincoln dan Guba, 1985:102).
            Dalam penelitian kualitatif, pertanyaan penelitian tidak dirumuskan atas dasar definisi operasional dari suatu variabel penelitian. Pertanyaan penelitian kualitatif dirumuska dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks, interaksi sosial yang terjadi, dan kemungkinan ditemukan hipotesis atau teori baru.

Berikut ini diberikan contoh rumusan masalah dalam proposal penelitian kualitatif  tentang suatu peristiwa.
    1. Apakah peristiwa yang terjadi dalam situasi sosial atau setting tertentu? (rumusan masalah deskriptif)
    2. Apakah makna peristiwa itu bagi orang-orang yang ada pada setting itu ? (rumusan masalah deskriptif)
    3. Apakah peristiwa itu diorganisir dalam pola-pola organisasi sosial tertentu? (rumusan masalah assosiatif /hubungan yang akan menemukan pola organisasi suatu kejadian)
    4. Apakah peristiwa itu berhubungan dengan peristiwa lain dalam situas  osial yang sama atau situasi sosial yang lain (rumusan masalah assosiatif)
    5. Apakah peristiwa itu sama atau berbeda dengan peristiwa lain (rumusan masalah komparatif)
    6. Apakah peristiwa itu merupakan peristiwa yang baru, yang belum ada sebelumnya ?

Contoh 2 Rumusan masalah tentang kemiskinan
  1. Bagaimana gambaran rakyat miskin di situasi sosial atau setting tertentu ? (rumusan masalah deskriptif)
  2. Apakah makna miskin bagi mereka yang berada dalam situasi sosial tersebut ? (rumusan masalah deskriptif)
  3. Bagaimana upaya masyarakat tersebut dalam mengatasi kebutuhan sehari-hari? (rumusan masalah deskriptif)
  4. Bagaimana pola terbentuknya mereka menjadi miskin? (rumusan masalah assosiatif reciprocal)
  5. Apakah pola terbentuknya kemiskinan antara satu keluarga dengan yang lain berbeda (masalah komparatif)
  6. Adakah pola baru yang menyebabkan rakyat menjadi miskin?

Contoh 3 Rumusan masalah tentang manajemen
  1. Apakah pemahaman orang-orang yang ada dalam organisasi itu tentang arti dan makna manajemen? (masalah deskriptif)
  2. Bagaimana iklim kerja atau suasana kerja pada organisasi tersebut? (masalah deskriptif)
  3. Bagaimana pola perencanaan yang digunakan dalam organisasi itu, baik perencanaan strategis maupun taktis/tahunan  (masalah deskriptif)
  4. Bagaimana model penempatan orang-orang untuk menduduki posisi dalam organisasi itu (masalah deskriptif)
  5. Bagaimana model koordinasi, kepemimpinan, dan supervisi yang dijalankan dalam organisasi itu? (masalah assosiatif )
  6. Bagaimana pola penyusunan anggaran pendapatan dan belanja organisasi itu? (masalah assosiatif )
  7. Bagaimana pola pengawasan dan pengendalian yang dilakukan dalam organisasi tersebut? (masalah deskriptif)
  8. Apakah kinerja organisasi tersebut berbeda dengan organisasi lain yang sejenis (masalah komparatif)

  1. Judul Penelitian Kualitatif
Judul dalam penelitian kualitatif pada umumnya disusun berdasarkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan demikian judul penelitiannya harus sudah spesifik dan mencerminkan permasalahan dan variabel yang akan diteliti. Judul penelitian kuantitatif digunakan sebagai pegangan peneliti untuk menetapkan variabel yang akan diteliti, teori yang digunakan, instrumen penelitian yang dikembangankan, teknik analisis data, serta kesimpulan.
            Dalam penelitian kualitatif, karena masalah yang dibawa oleh peneliti masih bersifat semetara, dan bersifat holistik (menyeluruh), maka judul dalam penelitian yang dirumuskan dirumuskan dalam proposal jug masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah memasuki lapangan. Judul laporan penelitian kualitatif yang baik justru berubah, atau mungkin diganti. Judul penelitian kualitatif yang tidak berubah, berarti peneliti belum mamapu menjelajah secara mendalam terhadap situasi sosial yang diteliti sehingga belum mampu mengembangkan pemahaman yang luas dan mendalam terhadap situasi sosial yang diteliti (situasi sosial = objek yang diteliti)

            Judul penelitian kualitatif tentu saja tidak harus mencerminkan permasalahan dan variabel yang diteliti, tetapi lebih pada usaha untuk mengungkapkan fenomena dalam situasi sosial secara luas dan mendalam, serta menemukan hipotesis dan teori. Berikut ini diberikan beberapa contoh judul penelitian kualitatif :
  1. Pengembangan Model Perencanaan yang efektif, di Era Otonomi Daerah
  2. Organisasi Pemerintah yang Efektif dan Efisien pada Era Otonomi Daerah
  3. Membangun Iklim Kerja yang Kondusif
  4. Pengembangan Kepemimpinan Berbasis Budaya
  5. Pengembangan Sistem Pengawasan yang Efektif
  6. Makna Menjadi Pegawai Negeri Sipil bagi Masyarakat
  7. Makna Pembangunan Bagi Masyarakat Miskin
  8. Pengembangan Body Language yang Menarik Bagi Konsumen Masyarakat Yogyakarta
  9. Strategi Hidup Masyarakat yang Tanah dan Rumahnya Tergusur
  10. Manajemen Keluarga Petani dalam Menyekolahkan Anak-anaknya
  11. Model Belajar Anak yang Berprestasi
  12. Profil Guru yang Efektif Mendidik Anak
  13. Makna Upacara-upacara Tradisional Bagi Masyarakat Tertentu
  14. Pola Perkembangan Karier Bagi Orang-orang Sukses
  15. Makna Gotongroyong  Bagi Masyarakat Modern
  16. Mengapa SDM Masyarakat Indonesia Tidak Berkualitas?
  17. Mengapa Korupsi Sulit Diberantas di Indonesia
  18. Menelusuri Pola Supply and Demand Narkoba
  19. Makna Sakit Bagi Pasien
  20. Pola Manajemen Pedagang yang diduga punya “Pesugihan”
  21. Pengembangan Model Pendidikan Berbasis Produksi
  22. Mengapa Para Pemimpin Indonesia Gagal Membangun Bangsa
  23. Mengadili Koruptor dengan Pendekatan Ilmiah
  24. Kesejahteraan Menurut Orang Miskin
  25. Model Pengmbangan SDM Bangsa dalam Upaya Mencapai Keunggulan Kompetitif

  1. Teori Dalam Penelitian Kualitatif
Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian kualitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori disini akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal penelitian kualitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai.
            Dalam penelitian kualitatif, kaena permasalahan yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara, maka teori yang digunakan dalam penyusunan proposal penelitian kualitatif  juga masih bersifat semetara, dan akan berkembang setelah peneliti memasuki lapangan atau konteks sosial. Dalam kaitannya dengan teori, kalau dalam penelitian kuantitatif itu bersifat menguji hipotesis atau teori, sedangkan dalam penelitian kualitatif bersifat menemukan teori.
            Dalam penelitian kuantitatif jumlah teori yang digunakan sesuai dengan jumlah variabel yang diteliti, sedangkan dalam penelitian kualitatif yang bersifat holistik, jumlah teori yang harus dimiliki oleh peneliti kualitatif jauh lebih banyak karena harus disesuaikan dengan fenomena yang berkembang di lapangan. Peneliti kualitatif akan lebih profesional kalau menguasai semua teori sehingga wawasannya akan menjadi lebih luas, dan dapat menjadi instrumen penelitian yang baik. Teori bagi peneliti kualitatif akan berfungsi sebagai bekal untuk bisa emahami konteks sosial secara lebih luas dan mendalam. Walaupun peneliti kualitatif dituntut untuk menguasai teori yang luas dan mendalam, namun dalam melaksanakannya penelitian kualitatif, penelii kualitatif harus mampu melepaskan teori yang dimiliki tersebut dan tidak digunakan sebagai panduan untuk wawancara dan observasi. Peneliti kualitatif dituntut dapat menggali data berdasarkan apa yang diucapkan, dirasakan dan dilakukan oleh partisipan atau sumber data. peneliti kualitatif harus bersifat “perspektif emic” artinya memperoleh data bukan “sebagai mana seharusnya”, bukan berdasarkan apa yang difikirkan oleh peneliti, tetapi berdasarkan sebagaimana adanya yang terjadi di lapangan, yang dialami, dirasakan, dan dikirkan oleh pertisipan/sumber data.
            Oleh karena itu peneliti kualitatif jauh lebih sulit dari peneliti kuantitatif, karena peneliti kuaitatif harus berbekal teori yang luas sehingga mampu menjadi “human instrumen” yang baik. Dalam hal ini Borg and Gall 1988 menyatakan bahwa “Qualitative research is much more difficult to do well than quantitative research because the data collected are usually subjective and the main measurement tool for colecting data is the investigator himself”. Penelitian kualitatif lebih sulit bila dibandingakan dengan penelitian kuantitatif, karena data yang terkumpul bersifat subjektif dan instrumen sebagai alat pengumpul data adalah peneliti itu sendiri.
            Untuk dapat menjadi instrumen penelitian yang baik, peneliti kualitatif di tuntut untuk memiliki wawasan yang luas, baik wawasan teoritismaupun wawasan yang terkait dengan konteks sosial yang diteliti yang berupa nilai, budaya, keyakinan, hukum, dat istiadat yang terjadi dan berkembang pada konteks sosial tersebut. Bila peneliti tidak memiliki wawasan yang luas, maka peneliti akan sulit membuka pertanyaan kepada sumber data, sulit memahami yang terjadi, tidak akan dapat melakukan analisis secara induktif terhadap data yang diperoleh. Sebagai contog seorang peneliti bidang menejemen akan merasa sulit untuk mendapatkan data tentang kesehatan, karena untuk bertanya pada bidang kesehatan sajanakan mengalami kesulitan. Demikian juga peneliti yang berlatarbelakang pendidikan, akan sulit untuk bertanya dan memahami bidang antropologi.
            Peneliti kualitatif dituntut mampu mengorganisasikan semua teori yang dibaca. Landasan teori yang dituliskan dalam proposal penelitian lebih berfungsi untuk menunjukkan seberapa jauh peneliti memiliki teori dan memahami permasalahan yang diteliti walaupun masih permasalah tersebut bersifat smentara. Olek karena itu landasan teori yang dikemukakan tidak merupakan harga mati, tetapi bersifat sementara. Peneliti kualitatif justu dituntut untu melakukan grounded research, yaitu menemukan teori berdasarkan data yang diperoleh dilapangan atau situasi sosial.




C. Alur Berfikir dan Langkah-Langkah Penelitian Kualitatif

                        ALUR BERFIKIR PENELITIAN



Oval: Data Collection
 
Oval: Data
Display
 








 















Gambar 2.2 : Analisis data kualitatif
sumber: Miles & Huberman (1992 : 20)

Gambar 2.2 memperlihatkan langkah-langkah yang dilakukan dalam sebuah penelitian kualitatif, antara lain :
  1. Tahap pengumpulan data yaitu proses memasuki lingkungan penelitian dan mulai melakukan pengumpulan data penelitian.
  2. Tahap reduksi data yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dari lapangan.
  3. Tahap penyajian data yaitu penyajian informasi untuk memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
  4. Tahap penarikan kesimpulan/ verifikasi yaitu penarikan kesimpulan dari data yang telah dianalisis.

D. POPULASI DAN SAMPEL
A.PENGERTIAN
Terdapat perbedaan yang mendasar dalam pengertian antara pengertian
“Populasi dan sampel” dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif.dalam penelitian kuantitatif,populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi itu.populasi itu misalnya penduduk di wilayah tertentu,jumlah guru dan murid di sekolah tertentu dsb.
Dalam penelitian kualitatif sebenarnya tidak menggunakan istilah populasi,tetapi oleh Spradley dinamakan “social situation”atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat (place),pelaku (actors),dan aktifitas (actifity) yang berinteraksi secara sinergis.situasi sosial tersebut,dapat dirumah berikut keluarga dan aktifitasnya.atau orang-orang di sudut-sudut jalan yang sedang ngobrol,atau ditempat kerja,kota,desa,atau wilayah suatu negara.situasi sosial tersebut,dapat dinyatakan sebagai obyek penelitian yang ingin diketahui “apa yang terjadi” di dalamnya.pada situasi sosial atau obyek penelitian ini peneliti dapat mengamati secara mendalam aktivitas (activity),orang-orng (actors) yang ada pada tempat (place) tertentu.situasi sosiaol seperti ditunjukkan pada gambar.

Isosceles Triangle: Social situionPlace/tempat




Actor/orang                                                   activity/aktivitas

Tetapi sebenarnya,obyek penelitian kulitatif juga bukan semata-mata pada situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen tersebut,tetapi juga bisa berupa peristiwa alam,tumbuh-tumbuhan,binatang,kendaraan,dsb.seorang peneliti yang mengamati secara mendalam tentang perkembangan tumbuh-tumbuhan tertentu,kinerja mesin,menelusuri rusaknya alam,adalah merupakan proses penelitian kualitatif.
Dalam kualitatif tidak menggunakan populasi,karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi sosial tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke populasi tetapi ditransferkan ketempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan dengan situsi sosial pada kasus yang dipelajari.sampel dalam penelitian kualitatif  bukan dinamakan responden,tetapi sebagai nara sumber,atau partisipan,informan,teman dan guru pada penelitian.sampel pada penelitian kualitatif,juga bukan disebut sampel statistik,tetapi sampel teoritis,karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk mnghasilkan teori.


Bersdasarkan hal tersebut,maka model penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digambarkan seprti gambar 11.2a dan 11.2b
Rounded Rectangle: sampelRounded Rectangle: populasi                                                                            Reduksi








 


                                                                       
                                                                  Generalisasi                               
                                                                       
11.2a model generalisasi penelitian kuantitatif.sampel reprasentatif,hasilnya digeneralisasikan kepopulasi.
16-Point Star: B                                                                       








 



Flowchart: Connector: F16-Point Star: D                                                     Transferability     
                                                                                                                                   
                                                                                                                                    

11.2b model generalisasi penelitian kualitatif.sampel purposive hasil dari A dapat ditransferkan hanya ke B,C,D.

Pada gambar 11.2a terlihat bahwa,penelitian berangkat dari populasi tertentu,tetapi karena keterbatasan tenaga,dana,waktu dan pikiran,maka penelitian menggunakan sempel sebagai obyek yang dipelajari atau sebagai sumber data.pengambilan sampel secara random.berdasarkan data dari sampel tersebut selanjutnya di generalisasikan ke populasi,dimana sampel tersebut di ambil.
Pada penelitian kualitatif,peneliti memasuki situasi sosial tertentu,melalui observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dipandang tau tentang situasi sosial tersebut.penentu sumber data pada orang yang diwawancarai dilakukan secara purposive,yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu.hasil penelitian tidak akan digeneralisasikan ke populasi karena,pengambilan sampel tidak diambil secara random.hasil penelitian dengan metode kualitatif hanya berlaku untuk kasus situasi sosial tersebut.hasil penelitian tersebut dapat ditransferkan atau diterapkan ke situasi sosial (tempat lain),apabila situasi sosial lain tersebut memiliki kemiripan atau kesamaan dengan situasi sosial yang diteliti.















E. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
Teknik sampeling adalah merupakan teknik pengambilan sampel.untuk menentukan sampel yang di gunakan dalam penelitian,terdapat berbagai teknik sampeling yang di gunakan.secara skematis,teknik sampeling ditunjukkan pada gambar 11.3


Rounded Rectangle: TEKNIK
SAMPELING
 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   








 







                                       



Gambar 11.3 bermacam-macam teknik sampeling

Dari gambar tersebut terlihat bahwa,teknik sampeling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua,yaitu: probaliti sampeling dan non probaliti sampeling.probality sampeling meliputi,simple random sampling proportionate stratified random sampeling,disproportionate stratified random sampeling,area ramdom.non-probability sampeling meliputi,sampling sistematis, sampling kuota,sampling icidental,purposive sampeling,sampling jenuh,snowball sampling.
1.Probbability Sampeling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.teknik ini meliputi, simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate sratified random, sampling area (cluster) sampling (sampling menurut daerah).
2. Nonprobability Sampling
Nonprobability sampling adalah tenik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi, sampling sistematis, kuota, aksidental, purposive, jenuh, snowball.
Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan adalah purposive sampling, dan snowball sampling. Seperti telah dikemukakan bahwa, purposive sampling adalah teknik pengambilan sampelsumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tau tenteng apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yanng diteliti. Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya jumlahnyan sedikit,lama-lama menjadi besar.hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu tersebut belum mampu memberi data yang memuaskan,maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sampel sumber data akan semakin besar, seperti bola salju yang menggelinding,lama-lama menjadi besar.
Oleh karena itu menurut lincolen dan guba (1985),dalam penelitian naturalistic spesifikasi sampel tidak dapat ditentukan sebelumnya.ciri-ciri khusus sampel purposive,yaitu : 1).emergent sampling disign/sementara, 2).serial selection of sample units/menggelinding seperti bola salju.(snowball), 3).continous adjusments or ‘focusing’ of the sample/disesuaikan dengan kebutuhan, 4).selection to the point of redundancy/dipilih sampai jenuh (lincolen dan guba,1985).


Jadi,penentu sampel dalam  penentu penelitian kualitatif dilakukan saat peneliti mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung (emergent sampling design). Caranya yaitu, peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan; selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari sampel sebelumnya itu,  peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberi data lebih lengkap. Praktek inilah yang disebut sebagai  “serial selection of sample units” (Lincoln dan Guba, 1985), atau dalam kata-kata Bogdan dan Biklen (1982) dinamakan “snowball sampling technique”. Unit sampel yang dipilih makin lama makin terarah sejalan dengan makin terarahnya fokus penelitian. Proses ini dinamakan Bondan dan Biklen (1982) sebagai “continuous adjustment of ‘fucosing’ of the sample”.
Dalam proses penentuan sample seperti dijelaskan diatas,bebrapa besar sampel tidak dapat ditentukan sebelumnya. Dalam sampel purposive besar sampel ditentukan oleh  pertimbangan informasi. Dalam hubungan ini S. Nasution (1988) menjelaskan bahwa penentuan unit sampel (responden) dianggap telah memadai apabila telah sampai kepada taraf “redundancy”  (datanya telah jenuh, ditambah sampel lagi tidak memberikan informasi yang baru), artinya bahwa dengan menggunakan responden selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berarti.
Dalam proposal penelitian kualitatif, sampel sumber data yang dikemukakan masi bersifat sementara. Namun demikian pembuat proposal perlu menyebutkan siapa-siapa yang kemungkinan akan digunakan sebagai sumber data. Misalnya akan meneliti gaya belajar anak jenius, maka kemungkinan sampel sumber datanya adalah orang-orang yang dianggap jenius, keluarga, guru yang membimbing, serta kawan-kawan dekatnya. Selanjutnya misalnya meneliti tentang gaya kepemimpinan seseorang, maka kemungkinan sampel sumber datanya adalah  pemimpin yang bersangkutan, bawahan, atasan, dan teman sejawatnya, yang dianggap paling tahu tentang gaya kepemimpinan yang diteliti.
Teknik pengambilan sampel sumber data dalam penelitian kualitatif yang bersifat purposive dan snowball itu dapat digambarkan seperti gambar 11.4 berikut.


 









Gambar 11.4. proses pengambilan sampel sumber data dalam penelitian kualitatif, purposive dan snowball.
Dalam proposal penelitian, peneliti telah merencanakan A sebagai orang pertama sebagai sumber data. Informan awal ini sebaiknya dipilih orang yang bisa “membukakan pintu” untuk mengenali keseluruhan medan secara luas (mereka yang tergolong getekeepers/penjaga gawang dan knowledgeable informant/infoman yang cerdas). Selanjutnya oleh A disarankan ke B dan C. Dari C dan B belum memperoleh data yang lengkap, maka peneliti ke F dan G. Dari F dan G belum memperoleh data yang akurat, maka peneliti pergi ke E, selanjutnya ke  H, ke G, ke I dan terakhir ke J. Setelah sampai ke J data sudah jenuh, sehingga sampel sumber data sudah mencukupi, dan tidak perlu menambah sampel yang baru.
Sanafiah Faisal (1990) dengan mengutip pendapat spradley mengemukakan bahwa, situasi sosial untuk sampel awal sangat disarankan suatu  situasi sosial yang didalamnya menjadi semacam muara dari banyak domain lainnya. Seanjutnya dinyatakan  bahwa, sampel sebagai sumber data atau sebagai informan sebaikna yang memenuhi kriteria aebagai berikut.
1.    Mereka yang menguasai atau memenuhi sesuatu melalui proses enkulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui, tetapi juga dihayatinya.
2.    Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti.
3.    Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi
4.    Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil “kemasannya’ sendiri
5.    Mereka yang pada mulanya tergolong “cukup asing” dengan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guruatau narasumber.
Seperti telah dikemukakan bahwa, penambahan sampel itu dihentikan, manakala datanya  sudah jenuh. Dari berbagai informan, baik yang lama maupun yang baru, tidak memberi data baru lagi. Bila pemilihan sampel atau informan benar-benar jatuh pada subyek yang benar-benar menguasai situasi sosial yang diteliti (obyek), mereka merupakan keuntungan bagi peneliti, karena tidak memerlukanbanyak sampel lagi, sehingga penelitian cepat selesai. Jadi yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah “tuntasnya”perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada, bukan banyaknya sampel sumber data.

F. METODE KUALITATIF
Metode ini digunakan untuk kepentingan yang berbeda bila dibandingkan dengan metode kuantitatif. Berikut ini dikemukakan kapan metode kualitatif digunakan.
a.    Bila masalah pelitian belum jelas, masih remang-remang atau mungkin malah masih gelap. Kondisi semacam ini cocok diteliti dengan metode kulitatif, karena peneliti kualitatif akan langsung masuk keobyek, melakuan penjelajahan dengan grant tour question, sehingga masalah akan dapat ditemukan dengan jelas. Melalui penelitian model ini, peneliti akan melakukan eksplorasi terhadap suatu obyek. Ibarat orang akan mencari sumber minyak, tambang emas dan lain-lain.
b.    Untuk memahami makna dibalik data yang tampak. Gejala sosial sering tidak bisa dipahami berdasarkan apa yang diucap dan dilakukan orang. Setiap ucapan dan tindakan  sering mempunyai makna tertentu. Sebagai contoh, orang yang menangis, tertawa, cemberut, mengedipkan mata, memiliki makna tertentu. Sering terjadi, menurut penelitian kuantitatif benar, tetapi justru menjadi tanda tanya menurut penelitian kuaitatif. Sebagai contoh ada 99 orang menyatakan bahwa A adalah pencuri, sedangkan 1 orang menyatakan tidak. Mungkin yang 1 orang ini yang benar. Data untuk mencari makna dari setiap perbuatan tersebut hanya cocok diteliti dengan metode kualitatif, dengan teknik wawancara mendalam, dan observasi berperan serta, dan dokumentasi.
c.    Untuk memahami interaksi sosial. Interaksi sosial yang kompleks hanya dapat diurai kalau peneliti melakukan penelitian dengan metode kualitatif dengan cara ikut berperan serta, wawancara mendalam terhadap interaksi sosial tersebut. Dengan demikian akan dapat ditemukan pola-pola hubungan yang jelas.
d.    Memahami perasaan orang. Perasaan orang sulit dimengerti kalau tidak diteliti dengan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, dan observasi berperan serta untuk ikut merasakan apa yang dirsakan orang tersebut.
e.    Untuk mengembangkan teori. Metode kulitatif paling cocok digunakan untuk mengembangkan teori yang dibangun melalui data yang diperoleh melalui lapangan. Teori yang demikian dibangun melalui graunded research. Dengan metode kualitatif peneliti pada tahap awalnya melakukan penjelajahan, selanjutnya melakukan pengumpulan data yang mendalam sehingga dapat ditemukan hipotesis yang berupa hubungan antar gejala. Hipotesis tersebut selanjutnya diverivikasi dengan pengumpulan data yang lebih mendalam. Bila hipotesis terbukti, maka akan menjadi tesis atau teori.
f.     Untuk memastikan kebenaran data. Data sosial sering sulit dipastikan kebenarnya. Dengan metode kualitatif, melalui teknik pengumpulan data secara triangulasi/gabungan (karena dengan teknik pengumpulan data tertentu belum dapat menemukan apa yang ditinjau, maka ganti teknik lain), maka kepastian data akan terjamin. Selain itu dengan metode kulitatif, data yang diperoleh diuji kredibilitasnya, dan penelitian berakhir setelah data itu jenuh, maka kepastian data akan dapat diperoleh. Ibarat mencari siapa yang menjadi provokator maka sebelum ditemukan siapa provokator yang dimaksud maka penelitian belum dinyatakan belum selesai.
g.     Meneliti sejarah perkembangan. Sejarah perkembangan kehidupan seseorang tokoh atau masyarakat akan dapat dilacak melalui metode kualitatif. Dengan menggunakan data dokumentasi, wawancara mendalam kepada pelaku atau orang yang dipandang tahu, maka sejarah perkembangan kehidupan seseorang. Misalnya akan meneliti sejarah perkembangan kehidupan raja-raja di Jawa, sejarah perkembangan masyarakat tertentu sehingga masyarakat tersebut menjadi masyarakat yang etos kerjanya tinggi atau rendah. Penelitian perkembangan ini juga bisa dilakukan dibidang pertanian, biang teknik seperti meneliti kinerja mobil dan sejenisnya, dengan melakukan pengamatan secara terus-menerus yang dibantu kamera terhadap proses tumbuh dan berkembangnya bunga tertentu, atau mesin mobil tertentu.

G. JANGKA WAKTU PENELITIAN KUALITATIF
Pada umumnya jangka waktu penelitian kualitatif cukup lama, karena tujuan penelitian kualitatif adalah bersifat penemuan. Bukan sekedar pembuktian hipotesis seperti dalam peelitian kuantitatif. Namun demikian kemungkinan  jangka penelitian berlangsung dalam waktu yang pendek, bila telah ditemukan sesuatu dan datanya sudah penuh. Ibarat mencari provokator, atau mengurai masalah, atau memahami makna, kalau semua itu dapat ditemukan dalam satu minggu, dan telah teruji kredibilitasnya, maka penelitian kualitatif dinyatakan selesai, sehingga tidak memerlukan waktu yang lama.
Dalam hal ini Susan Stainback menyatakan bahwa “tidak ada cara yang mudah untuk menentukan beberapa lama penelitian kualitatif dilaksanakan. Tetapi lamanya penelitian akan tergantung keberadaan sumber data, interest, dan tujuan penelitian. Selain itu juga akan tergangung cukupan penelitian, dan bagaimana peneliti mengatur waktu yang digunakan dalam setiap hari atau tiap minggu”.

H. ANALISIS PENELITIAN KUALITATIF
  1. Pendahuluan
Pendekatan kualitatif atau disebut juga dengan pendekatan naturalistik adalah pendekatan penelitian yang menjawab permasalahan penelitiannya memerlukan pemahaman secara mendalam dan menyeluruh mengenai objek yang diteliti, untuk menghasilkan kesimpulan-kesimpulan peneliti dalam konteks waktu dan situasi yang bersangkutan. Pendekatan kualitatif/naturallistik memandang suatu kenyataan sebagai suatu yang berdimensi jamak, oleh karena tidak mungkin disusun rancangan penelitian yang terinci sebelumnya, melainkan rancangan penelitian berkembang selama penelitian berlangsung.
Penelitian dan objek yang diteliti saling berinteraksi, dengan proses penelitiannya dilakukan dari luar “luar” dan dari “dalam” dengan banyak melibatkan pemikiran analitik. Dalam pelaksanaanya, dalam penelitian ini tidak ada alat penelitian baku yang disiapkan sebelumnya.
Dengan adanya penggunaan pemikiran analitik dalam penelitian ini mengimplikasikan metode yang digunakan adalah metode kualitatif sekalipun tidak  sepenuhnya bercirikan seperti itu. Objek yang diteliti tidak lepas dari konteks waktu/situasi, sehingga penelitian cenderung berlangsung dalam setting atau lingkungan nyata, alamia (natural).



  1. Analisis Penelitian Kualitatif
1.                    Judul :
STUDI MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH EFEKTIF MELALUI VISIONARY LEADERSIF (KEPEMIMPINAN VISIONER) PADA SMAN 3 KOTA BANDUNG

Judul sudah mempresentasikan isi yang dikemas secara lugas dan mengandung muatan deskriptif. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggambarkan, menjelaskan berbagai kondisi dan situasi yang ada. Setting sosial sudah tergambar dalam judul terutama untuk setting tempat dan aktifitas diharapkan dengan penelitian yang insentif akan dihasilkan deskripsi tentang objek penelitian yaitu bagaimana sekolah membangun budaya sekolah efektif melalui kepemimpinan visioner

2.    Latar Belakang Masalah
Pada latar belakang sudah diungkapkan arah peningkatan mutu pendidikan, kajian empirik yang berkaitan dengan masalah budaya dan kepemimpinan serta kajian teoritik dalam bidang budaya dan kepemimpinan. Yang paling krusial dalam latar belakang masalah adalah tercerminnya paradigma yang menyatukan kesesuaian rujukan konsep teoritik dan kajian empirik.

3.    Fokus Penelitian
    1. Profil Visionary Leadership (Kepemimpinan Visioner) di SMAN3 Kota Bandung
    2.  Mekanisme yang ditempuh dalam menciptakan, merumuskan, dan mengimplementasikan visi bersama pada SMAN 3 Kota Bandung
    3. Usaha SMAN 3 dalam membangun budaya sekolah efektif.
    4. Langkah-langkah ditempuh sekolah dalam mengimplementasikan visionary leadership untuk membangun budaya sekolah efektif.
    5. Model membangun budaya Sekolah efektif melalui Visionary Leadership pada SMAN 3 Kota Bandung.

Secara redaksi sudah eksplisit penulisan fokus penelitian tidak dalam pernyataan “permasalahan”.
Komentar terhadap pentingnya menentukan fokus yaitu bahwa peneliti seringkali terjebak dalam ambisi yang berlebihan. Untuk menghindarinya perlu ada fokus sebagai upaya pembatasan atau delimitasi dari penelitian. Ada dua fungsi dari fokus penelitian, yaitu:
  1. Fokus membangun pagar disekeliling lahan penelitian
  2. Fokus membangun kriteria inklusif atau eksklusif dalam penelitian
  3. Fokus memudahkan cara kerja sehingga tidak ada tindakan yang mubadzir.

Struktur dari fokus sudah menunjukan adanya kategori/sub-kategori dan komponen.
4.    Rumusan Masalah

a.    Bagaimana Profil Visionary Leadership (Kepemimpinan Visioner) di SMAN3 Kota Bandung?
b.    Bagaimana kepala sekolah menciptakan, merumuskan, dan mengimplementasikan visi bersama?
c.    Bagaimana usaha pimpinan SMAN 3 dalam membangun budaya sekolah efektif?
d.    Langkah-langkah apa yang ditempuh sekolah dalam mengimplementasikan visionary leadership untuk membangun budaya sekolah efektif?
e.    Bagaimana model membangun budaya Sekolah efektif melalui Visionary Leadership pada SMAN 3 Kota Bandung?

1)    Rumusan masalah tetap dinyatakan yang mengeksplorasi/brekdown fokus dalam betuk pertanyaan penelitian.
2)    Proses penelitian mempunyai beberapa langkah yang merupakan satu kesatuan, yaitu: memilih tema umum permasalahan bidang pendidikan yang akan diteliti, mencari landasan teori dari literature sebelum mengumpulkan data, menetapkan masalah spesifik pertanyaan yang berkaitan dengan masalah apa yang diteliti, menentukan desain dan metodologi penellitian, mengumpulkan data, menganallisis data dan memaparkan hasilnya, serta menginterpretasikan dan menyimpulkan hasil temuan dalam penelitian disertai dengan penyampaian saran atas hasil penelitian tersebut.
3)    Sumber masalah yang dapat dijadikan penelitian bermacam-macam masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi dan apabila dibiarkan akan berbahaya.
4)    Rumusan masalah yang baik adalah :
a.    Feasible, artinya dapat dicarikan jawabannya melalui sember yang jelas secara efisien.
b.    Masalah harus jelas, sehingga setiap orang memiliki persepsi yag sama terhadap masalah tersebut.
c.    Sigifikan, artinya jawaban terhadap permasalan tersebut berkontribusi terhadap pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan manusia.
d.    Etis, tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat etika, moral, nilai-nilai keyakinan dan agama, suku dan adat istiadat.
5.    Rumusan nasalah yang baik adalah yaang menyatakan hubungan antara dua kategori atau lebih, dinyatakan dalam bentuk kalimat tanya atau alternatif yang secara implicit mengandung pertanyaan.
6.    Rumusan masalah memberikan arah bagi kegiatan penelitian. Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalan penelitian yang telah durumuskan.

  1. Tujuan Penelitian

Sudah sesuai dengan fokus dan permasalahan yang organisasikan dalam struktur tujuan umum atau utama dan tujuan spesifik.

  1. Manfaat Penelitian

Sudah sesuai dengan fokus dan permasalahan yang organisasikan dalam struktur tujuan umum atau utama dan tujuan spesifik.

  1. Kajian Pustaka

Kajian pustaka sudah komprehensif, walaupun untuk rujukan teori penelitian kualitatif tidak terlalu mementingkan detail teori atau konsep tetapi bisa dalam bentuk paradigma. Dasar teori sebagai pijakan ialah adanya interaksi simbolik dari suatu gejala dengan gejala lain yang ditafsir berdasarkan pada budaya yang bersangkutan dengan cara mencari makna semamntis universal dari gejala yang sedanng diteliti.

  1. Metode Pengumpulan Data

Dalam sub judul metode tidak ada populasi dan sampel tetapi sudah langsung pada sumber data dan informasi. Sebaiknya ada subjudul unit analisis untuk mengganti istilah populasi dan sampel.
Adapun prosedur penelitian dalam tesis ini digambarkan sebagai berikut.
1)    Pemahaman literature
2)    Deskripsi desain penelitian
3)    Penyusunan proposal penelitian
4)    Penyusunan kisi-kisi pengumpulan data
5)    Penyelesaian masalah perijinan
6)    Pengumppulan data
7)    Penyusunan/ reduksi data
8)    Display data
9)    Analisis data tiap kasus – lintas kasus
10) Interpretasi data
11) Penyusunan laporankan informasi

      Dalam memilih dan memanfaat, peneliti telah memilih sumber informasi yaitu yang sangat memahami situasi sosial penelitian. Syarat informasi harus jujur, taat pada janji, patuh pada aturan dan bukan anggota kelompok rival. Informasi dimanfaatkan untuk berbicara, bertukar pikiran/berdiskusi dan membandingkan kejadian.
      Ditinjau dari pendekatan metode yang sangat relevan karena dengan kualitatif selain dapat mengumpulkan data tapi juga dapat menemukan ide-ide baru dan kritikan-kritikan dari program yang telah terlaksana sehingga dapat bermanfaat menjadi pengayaan dan pembenahan untuk program budaya dan kepemimpinan selanjutnya disekolah ttersebut.
      Dalam teknik dsn instrument penelitian dalam tesis ini peneliti sebagai “key instrumen” bahkan penulis pun langsung  terlibat dalam pelatihan dan kegiatan-kegiatan inovasi kepala sekolah dalam implementasi kepemimpinannya, misalnya terlibat dalam rapat, dalam penyusunan program implementasi visi, dan sebagainya sehingga dapat menguatkan validitas dalam interpretasi data. Sumber data 100% dari kepala sekolah dan staf personil lainnya dengan menggunakan teknik purposing sampling sehingga data lebih banyak dan lebih valid dengan penerapan snowball sampling.
      Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipan, interview dan studi dokumentasi.

  1. Pengumpulan Data

Dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Peneliti membuat transcribing dan menganalisisnya.

  1. Analisis Data

 Pengolahan dilakukan dengan reduksi data, display data, dan analisis data. Dalam melakukan analisis data dibutuhkan adanya kepekaan teoritis, karena dalam analisis data peneliti sebenarnya sedang melakukan upaya pengembangan teori. “In meking sense of the data, you are engaged in theorizing – the constr uction of meaningful patterns and organizations of facts. A theory is an arrangement of facts in the form of an explanation or interpretation” (Jorgensen, 1989)


  1. Keabsahan Data

Ditinjau dari tahapan penelitian kualitatif, tesis ini  sudah memenuhi kesesuaian dari tahapan pra lapangan sampai pada tahap penyusunan laporan bahkan prosedur yang di lakukan lebih komprehensif dengan mengedapankan kretaria keabsahan data di lakukan lebih komprehensip dengan mengedepankan kretaria keabsahan data di setiap tahapannya
12. Terdapat bukti-bukti seperti transcribing dengan pengkodean yang teratur dan konsisten. Ada bukti triangulasi dan data snowball sampling
13. Kesimpulan sudah sesuai dengan tujuan penelitian dan pada implikasinya sudah tergambar logicalframework peneliti yang merefleksikan empirikalframework.


II. ANALISIS LAPORAN PENELITIAN YANG MENGGUNAKAN PENDEKATAN KUALITATIF

1.     Judul penelitian: Efektifitas Komite Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Studi pada Jenjang Sekolah Dasar Lingkungan Dinas Pendidikan Kecamatan Cidadap Kota Bandung)
Komentar : Judul ini menggunakan parameter yang langsung mengarah pada suatu ukuran dengan indikator yang jelas yaitu ukuran keefektifan komite sekolah. Dengan demikian judul ini memberi kesan kepada pembaca bahwa penelitian ini bersifat kuantitatif bukan kualitatif. Lebih cocok dengan menghilangkan kata efektifitas dan diganti dengan peran karena substansi yang diungkap lebih pada peran komite. Maka judulnya menjadi: Peran Komite Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.

2.     Permasalahan: Secara rinci permasalahannya adalah:

   Apakah masyarakat, khususnya mereka yang sudah terganbung dalam wadah komite sekolah sudah siap melaksanakan peran dan fungsinya bagaimana diamatkan dalam UUSPN No. 20 tahun 2003 dan Kepmendiknas No. 044 tahun 2002 ? Kalau belum siap, usaha-usaha apa yang perlu dilakukan untuk mengefektifan peran dan fungsi komite sekolah sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan ? Bagaimana peranan pemerintahan untuk memfasilitasi dewan/komite sekolah berjalan secara efektif dalam menjalankan peran dan tugasnya? Strategi apa yang yang tepat untuk mengimplementasikan kebijakan dewan/komite sekolah yang akomodatif terhadap pemecahan masalah?

Komentar: Permasalahan yang akan diungkap seharusnya diganti dengan mengembangkan fokus, kategori/klasifikasi dan sub-kategori

3.    Pendekatan: Yang digunakan adalah kualitatif dengan pengembangan sebagai berikut.

Studi kebijakan ini akan dilakukan melalui studi kasus tentang  peran komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Untuk mengungkap kajian ini, kami memfokuskan pada beberapa kabupaten/kota di Propinsi Jawa Barat yang telah melaksanakan kebijakan Dewan/Komite Sekolah.

Langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan sebagai berikut.
a.    Memotret kondisi implementasi kebijakan Kepmendiknas No. 004 tahun 2002 tentang dewan sekolah dan komite sekolah yang terjadi saat ini;
b.    Menganalisis gejala dan fenomena yag terjadi dari implementasi kebijakan dewan/komite sekolah mencakup faktor pendukung dan penghambat implementasi kebijakan Kepmendiknas No. 044 tahun 2002 tentang dewan sekolah dan komite sekolah yang terjadi saat ini.
c.    menyusun rekomendasi sebagai masukan yang menguatkan kebijakan implementasi dewan/komite sekolah

Komentar: Seharusnya, apabila memakai desain kualitatif maka metode yang dikembangkan adalah mencerminkan prosedur yang harus ditempuh dalam penelitian kualitatif, yaitu sampelnya snowball sampling dan melakukan triangulasi. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, dokumentasi dan partisipasi. langkah-langkahnya grand tour, eksplorasi, member check dan evaluasi/rekomendasi.

4.    Analisis Data: dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Mulai dari reduksi data, pengorganisasian, pemeriksaan, penafsiran dan verifikasi data.

Komentar: analisis data harus dimulai saat key instrument terjun ke lapangan. Untuk membantu hal tersebut, dibuat field note dengan di sertai catatan pemaknaan seperti tabel berikut.
Kategori
Deskripsi
Pemaknaan










5.    Hasil Penelitian : Mendeskripsikan hasil temuan lapangan selanjutnya dibahas pengembangannya dari sudut perspekfif etic.
Komentar: sudah selesai




















BAB III
KESIMPULAN

          Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada quality atau hal yang penting dari sifat suatu barang/jasa. Hal terpenting dari suatu barang atau jasa berupa kejadian/fenomena/gejala sosial adalah makna dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi suatu pengembangan konsep teori. Jangan sampai sesuatu yang berharga tersebut berlalu bersama waktu tanpa meninggalkan manfaat. Penelitian kualitatif dapat didesain untuk memberikan sumbangannya terhadap teori, praktis, kebijakan, masalah-masalah sosial dan tindakan.
Judul dalam penelitian kualitatif pada umumnya disusun berdasarkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan demikian judul penelitiannya harus sudah spesifik dan mencerminkan permasalahan dan variabel yang akan diteliti. Judul penelitian kuantitatif digunakan sebagai pegangan peneliti untuk menetapkan variabel yang akan diteliti, teori yang digunakan, instrumen penelitian yang dikembangankan, teknik analisis data, serta kesimpulan.














DAFTAR PUSTAKA


Berg, Bruce L. (2007). Qualitative Research Methods For The Social Sciences.
            Boston : Pearson Education,Inc.
           
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.
               Bandung : Alfa Beta, CV.

Satori, Djam’an & Komariah, Aan. (2010).Metodologi Penelitian Kualitatif.
              Bandung : Alfa Beta, CV.

            Panduan Penelitian Kualitatif Naturalistik. Tersedia http://lemlit.uny.ac.id/
             download_center/www.socialresearchmethods.net/kb/qualapp.php - 10k







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan anda dan kritik anda sangat berarti demi kemajuan saya terimakasih atas saran-saran dari anda semua semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua.... Amiin