Jumat, 27 April 2012

BK PERKEMBANGAN PERKEMBANGAN GERAKAN BIMBINGAN DAN KONSELING



BAB I
PEMBAHASAN
PERKEMBNGAN GERAKAN BIMBINGAN DAN KONSELING



1.      Sekilas Sejarah Bimbingan dan Konseling

Seratus tahun lebih sudah bimbingn dan konseling ikut berperan serta  dalam mensukseskan pendidikan, terutama di Amerika Serikat. Hal ini berawal dari upaya Jesse B. Davis yang menyediakan program bimbingan tersistematis di sekolah di saat ia menjadi kepala sekolah SLTA pada tahun 1907. Davis mendorong guru di sekolahnya untuk mengkaitkan pelajaran dengan minat karier, mengembangkan karakter serta menghindarkan masalah dari siswa. Sejalan dengan upaya tersebut, Frank Parson (atau dikenal juga sebagai Bapak Bimbingan Kejuruan) mendirikan Biro Bimbingan dan Kejuruan. Biro ini membantu siswa/ para remaja dalam menjalani masa peralihan dari sekolah ke dunia kerja .
Bimbingan dan Penyuluhan yang lebih dikenal dengan Bimbingan dan Konseling adalah merupakan suatu ilmu baru bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain pada umumnya. Bimbingan dan Konseling itu timbulnya sekitar abad ke-20. Gerakan ini mulai timbul di Amerika Serikat yang di pelopori oleh Frank Parson dan Jhon Brewer. Pada  mulanya pada mulanya bimbingan yang ada adalah bimbingan karier.








2. Perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia

Hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 – 24 Agustus 1960. Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun “Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan “pada PPSP.
Pada tahun 1975 BP masuk pada kurikulum  Sekolah Menengah Atas(SMA) di Indonesia didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.
Selanjutnya Tahun 1978 diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah yang sampai saat itu belum ada jatah pengangkatan guru BP dari tamatan S1 Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Pengangkatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah mulai diadakan sejak adanya PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan.

Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K). Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.

Akan tetapi pelaksanaan di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka. Sampai tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas, parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah.
Hingga kemudian lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah.
Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas.

Perkembangan sejarah organisasi bimbingan dan konseling dari IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan) dan menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia) ini sebagai organisasi profesi yang telah berperan besar terhadap perkembngan bimbingn dan konseling di Indonesia kini sudah berusia 40-an tahun.
Pada tahun 1990-an berikutnya IPBI sebagai organisasi profesi ikut bertanggungjawab atas keberadaan profesi konseling dan mutu pelayanannya. Saat ini dilakukan konsolidasi baik dari segi keilmuan, para pelaksana, atau pelaksanaanya menjadi satu kesatuan sosok organisasi yang utuh dan berwibawa.
Prayitno (2003) mencatat sebagai butir-butir yang menandai periode ini :
1.      diubah secara resmi sebutan penyuluhan menjadi konseling,
2.      pelayanan BK hanya dilaksanakan oleh guru pembimbing yang secara khusus di tugasi untuk itu,
3.      mulai diselenggarakan penataran dan pelatihan (nasional atau daerah) untuk guru-guru pembimbing,
4.      adanya formasi pengangkatan menjadi guru pembimbing,
5.      pola pelayanan BK di sekolah dikemas dalam Pola BK 17 Plus,
6.      terbentuk pengawasan bidang BK.





Berdasarkan SK Menpan No.84/1993, SK Mendikbud No. 025/O/1995 dan SK Menpan No.116/1995 dalam upaya konsolidasi tersebut, melahirkan juga berbagai buku Seri Pemanduan Pelaksanaan BK di Sekolah (SPP-BK) untuk SD,SLTP, SMU dan SMK. Dan lebih jauh lagi IPBI memprakarsai pengembangan sejumlah panduan yang lebih bersifat oprasional teknis dalam pelaksanaan BK di sekolah (Penyusunan Program BK di sekolah, Pen jurusan Siswa, Bimbinngan Teman Sebaya , Bimbingan kelompok Belajar, Pelayanan Hasil Layanan BK, dan Manajemen BK di Sekolah), yang dilengkapi dengan pengembangan alat ungkap masalah dan instrumen lainnya berbasis komputer.
Sedangkan dari segi layanan tidak hanya berfokus pada setting sekolah, tetapi mencakup masyarakat luas, sesuai dengan jangkauan dan kondisi serta tuntutan masyarakat akan pelayanan profesional BK. Dalam arti profesi BK tetap konsisten menyumbang pada kebahagiaan individu dan kelompok anggota masyarakat.
Di lain pihak, organisasi profesi tetap mengupayakan kegiatan peningkatan profesionalitas anggotanya dengan pertemuan secara periodik berupa konvrensi dan kongres.
Tonggak sejarah penting terjadi waktu Kongres XI di Lampung pada tahun 2001 nama organisasi profesi ini dari IPBI berganti nama menjadi ABKIN. Organisasi profesi ini semakin berkembang semakin besar sejalan dengan perkembangan zaman.
Menurut Sunaryo K,(2003) ada dua sisi besar yang memberi warna terhadap arah perkembangan organisasi :
·         Pertama : kondisi objektif kehidupan global dan teknologi informasi yang memunculkan masyarakat berbasis pengetahuan dan masyarakat belajar, belajar sebagai proses sepanjang dan sejagat hayat.
·         Kedua : pengakuan legal atau profesi bimbingan dan konseling yang secara formal dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional di mana konselor diakui sebagai salah satu ragam tenaga pendidik.
Dijelaskan selanjutnya bahwa sisi pertama mendorong pergeseran konseling ke arah konseling sepanjang hayat, dalam ragam setting, dalm konteks keterpaduan hidup, belajar, dan bekerja, dan aksesibilitas yang tak terbatas.
Sisi kedua memperkuat keharusan standarisasi profesi yang di perlukan untuk memenuhi layanan profesional sesuai dengan pergeseran yang terjadi. Standarisasi profesi menjadi isu sentral dalam penentuan kenijakan dan arah pengembangan bimbingan dan konseling di Indonesia.
ABKIN sebagai organisasi profesi bertanggung jawab dalam mengembangkan dan menetapkan standar profesi dan layanan profesi, bermitra dengan perguruan tinggi dalam mendidik dan menyiapkan tenaga konselor yang profesional, mengembangkan networking dalam membangun dan memperkokoh kepercayaan dan rekognisi masyarakat terhadap profesi  konselor, dan mendorong para pengambil kebijakan untuk mengembangkan sumber daya manusia bimbingan dan konseling ke arah standar profesi yang ditetapkan.
            Sementara itu, Prayitno (2003) mengembangkan perangkat dari pelayanan BK di sekolah, yang memang telah tersedia, baik berupa peraturan, panduan, pola layanan, maupun instrumen, namun permasalahan yang berkenaan  dengan SDM kiranya lebih sulit untuk dikonsolidasi.









            3. Macam-macam Bimbingan dan Konseling
           
Dalam perkembangan  sejarahnya bimbingan dan konseling pada awalnya hanya terbatas pada bimbingan jabatan saja atau bimbingan karier misalnya pada Job Slection dan Job Training awalnya bimbingan.

Maka dalam cara ini efisien dalam pekerjaan dapat dicapai penempatan orang sesuai dengan kemampuannya sehingga persoalan-persoalan atau kesulitan yang berhubungan dengan pekerjaan dapat dihindarkan.

Selain dari bimbingan di atas ada pula bimbingan-bimbingan yang lain, umpamanya bimbingan tentang pendidikan yang disebut Educational Guidance. Kenyataanya sejarah menujukkan bahwa sejahteranya seseorang tidak hanya tergantung pada sesuai atau tidaknya kedudukan atau jabatannya, tidak hanya hanya kependidikannya tetapi juga tergantung pada kepribadian  seseorang.
Banyaknya timbul masalah seringkali diakibatkan dari ulah pribadi seseorang . Maka oleh sebab itu timbulah personal guidance (Bimbingan Pribadi).













BAB II
PENUTUP
KESIMPULAN


Bimbingan dan Penyuluhan yang lebih dikenal dengan Bimbingan dan Konseling adalah merupakan suatu ilmu baru bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain pada umumnya. Bimbingan dan Konseling itu timbulnya sekitar abad ke-20. Gerakan ini mulai timbul di Amerika Serikat yang di pelopori oleh Frank Parson dan Jhon Brewer. Pada  mulanya pada mulanya bimbingan yang ada adalah bimbingan karier.

Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas.
Perkembangan sejarah organisasi bimbingan dan konseling dari IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan) dan menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia) ini sebagai organisasi profesi yang telah berperan besar terhadap perkembngan bimbingn dan konseling di Indonesia kini sudah berusia 40-an tahun. Tonggak sejarah penting terjadi waktu Kongres XI di Lampung pada tahun 2001 nama organisasi profesi ini dari IPBI berganti nama menjadi ABKIN. Organisasi profesi ini semakin berkembang semakin besar sejalan dengan perkembangan zaman.

Dalam perkembangan  sejarahnya bimbingan dan konseling pada awalnya hanya terbatas pada bimbingan jabatan saja atau bimbingan karier misalnya pada Job Slection dan Job Training awalnya bimbingan.

DAFTAR PUSTAKA



Prayitno, (2003). Wawasan Profesional Konseling, Universitas Negeri Padang : Padang.

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), (2005). Struktur Kompetensi
            Konselor dalam Standar Kompetensi Indonesia. Pengurus ABKIN.

Muhammad, Ali, (2000). Perkembangan Gerakan Bimbingan dan Konseling.
            Malang : PT Konsertal.

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).

Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah.
Bandung : CV Bani Qureys.

UU. No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan anda dan kritik anda sangat berarti demi kemajuan saya terimakasih atas saran-saran dari anda semua semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua.... Amiin