Jumat, 19 April 2013

JABATAN PROFESIONAL DAN TANTANGAN GURU DALAM PEMBELAJARAN



PENDAHULUAN


A.    Latar Balakang Masalah
Proses pendidikan bertujuan untuk mendapatkan mutu sumber daya manusia sesuai dengan tuntutan kebutuhan pembangunan. Pendukung utama bagi terlaksananya sasaran tersebut ialah melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu dibawah bimbingan dan pembinaan tenaga kependidikan yang professional serta implementasi seluruh komponen manjemen mutu secara terpadu. Pendidik memainkan peran yang sangat penting, terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi aktor yang mampu menampilkan keunggulan dirinya sebagai sosok yang tangguh, kreatip, mandiri, dan professional pada bidangnya masing-masing. Keberhasilan peserta didik sebagai subjek belajar berkaitan dengan proses pribadi (individual process) dalam menginternalisasi pengetahuan, nilai, sifat, sikap dan keterampilan yang ada disekitarnya. Sedangkan keberhasilan pengajar sebagai subjek mengajar selain ditentukan oleh kualitas pengajar secara pribadi (individual quality) juga ditentukan oleh standar-standara kompetensi yang dimiliki oleh pengajar, yang meliputi kompetensi intelektual, kompetensi pedagogi, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Kualifikasi akademik dan kemampuan prefesionalisme guru sebagai subjek mengajar juga berperan penting untuk mencapai tujuan pendidikan
.
Jabatan guru merupakan jabatan professional yang menghendaki guru harus bekerja secara professional.bekerja sebagai seorang yang professional berarti bekerja dengan keahlian atau kompetensi serta kemampuan guru untuk mengelola pembelajaran .pertanyaanya ,apakah sudah benar guru bekerja secara professional? bagaimana sebenarnya guru yang professional dalam pemblajaran? Serta apa sajakah kompetensi yang harus dimiliki seorang guru? untuk itu makalah ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.serta memberikan pemahaman tentang tugas profesionalisme guru dalam pemblajaran .
Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral pendidikan telah memberikan sumbangan terhadap perkembangan siswa di sekolah. Namun meskipun demikian masih banyak lagi yang dibutuhkan dan yang perlu mendapat perhatian, seperti petugas bimbingan yang masih bersifat menunggu, pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah yang kurang memberikan nilai tambah bagi perkembangan siswa, petugas bimbingan sekolah yang kurang menampilkan kegiatan bermakna bagi pencapaian tujuan program sekolah, belum adanya perbedaan yang nyata kemampuan profesional antara petugas bimbingan yang berlatar pendidikan jurusan Bimbingan dan Konseling. Sampai saat ini guru pembimbing (BK) masih dianggap menakutkan. Pandangan tentang Guru pembimbing (BK) sebagai guru khusus untuk siswa bermasalah masih tetap melekat di sebagian besar sekolah. Anggapan bahwa siswa yang berhubungan dengan guru pembimbing adalah siswa yang bermasalah pun masih melekat dalam ranah pikiran sebagian besar siswa dan orang tuanya. Sehingga gambaran menakutkan tentang guru pembimbing (BK) sebagai polisinya sekolah telah menumbuhkan keengganan sebagian besar siswa untuk berhubungan dengan guru pembimbing. Walaupun sebenarnya para siswa itu sangat ingin berhubungan dengan guru BK tetapi mereka lebih takut dicap teman-temannya sebagai siswa bermasalah. Pandangan itu tentu saja sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan Guru BK dalam malakukan peran besarnya di sekolah. Hal tersebut merupakan beberapa masalah yang perlu dicarikan jalan pemecahannya untuk menciptakan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah secara profesional. Sehingga profesionalitas guru pembimbing dapat terwujud. Dengan memperhatikan fenomena guru pembimbing di sekolah, maka pengembangan profesionalitas guru menjadi peluang yang amat terbuka dan amat urgen dilakukan, terutama dilihat: (1) dengan semakin kompleksnya tuntutan tugas guru pembimbing, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efesien; (2) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya yang diterapkan dalam bimbingan dan konseling di sekolah juga cenderung bergerak maju semakin pesat, sehingga menuntut penguasaannya secara akademik-profesional; (3) setiap guru dihadapkan pada tantangan untuk melaksanakan pengembangan pendidikan secara terarah, berencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
PEMBAHASAN

JABATAN PROFESIONAL DAN TANTANGAN GURU
DALAM PEMBELAJARAN

Jabatan Guru adalah Jabatan Profesional. Untuk itu, Guru Harus Bekerja Secara Profesional.
A. Pendahuluan
Jabatan guru merupakan jabatan profesional yang menghendaki guru harus bekerja secara profesional. Bekerja sebagai seorang yang profesional berarti bekerja dengan keahlian, dan keahlian hanya dapai diperoleh melalui pendidikan khusus. Guru tentu telah mengikuti pendidikan keahlian melalui lembaga kependidikan. Keahlian dalam pendidikan ditandai dengan diberikannya sertifikat atau akta mengajar:' Pertanyaannya, apakah sudah benar guru bekerja secara profesionali Bagaimana sebenarnya guru yang profesional dalam pembelajaran? Uraian berikut memberikan pemahaman tentang tugas profesionalisme, guru dalam pembelajaran.

B. Kegiatan Guru dalam Pembelajaran
Banyak sekali kegiatan yang dapat dipilih. Sayangnya, tidak ada rumus sederhana untuk mencocokkan kegiatan dengan sasaran. Apa yang dianggap baik untuk seorang pengajar atau sekelompok siswa bisa saja jadi tidak memuaskan dalam situasi lain. Anda perlu mengetahul berbagai pilihan bagi Anda, manfaatnya, dan juga berbagai bahan penunjang yang mungkin diperlukan. Kemudian, Anda dapat memilih pilihan yang menurut Anda dapat mencapai sasaran yang telah Anda tetapkan, baik dari segi ciri siswa maupun dari segi persiapan mereka.
Kita perlu menyiapkan landasan bagi pengambilan putusan secara memuaskan tentang metode pengajaran dan kegiatan belajar yang efektif. Ini perlu untuk menjalin agar sebagian besar siswa dapat menguasai sasaran pengajaran pada tingkat pencapaian yang dapat diterima,.dalam jangka waktu yang sesuai.


Pola Pembelajaran yang Efektif
Ada banyak jalur untuk belajar. Anda pasti mengenal metode mengajar dan kegiatan belajar yang umum digunakan. Biasanya guru menyajikan Informasi kepada sejumlah siswa dengan menggunakan metode ceramah, berbicara dengan informal, menulis di papan tulis, memperagakan, dan menggunakan bahan pandang dengar.
Siswa belajar mandiri sesuai dengan kecepatannya dengan cara membaca, mengerjakan tugas pada lembar kerja, memecahkan masalah, menulis laporan praktikum, dan barangkali menonton film serta menggunakan bahan pandang dengar.lain. Interaksi antarguru dengan siswa dan antarsiswa terjadi melalui tanya jawab, diskusi, kegiatan kelompok kecil, tugas yang harus diselesaikan, dan laporan.
Ketiga pola ini (penyajian di kelas, belajar mandiri, dan interaksi guru-siswa) adalah kategori yang mengelompokkan sebagian besar metode pengajaran dan pembelajaran. Setiap kegiatan pengajaran, apakah yang ditentukan guru atau yang diperuntukkan bagi murid untuk belajar mandiri, ada hubungannya dengan salah satu dari ketiga pola ini. Kita tidak dapat menggunakan ketiga pola ini dengan sembarangan ketika merencanakan program pengajaran. Mengapa? Ada beberapa alasan.
Pertama, dari pengetahuan tentang gaya belajar, kita tahu bahwa, baik metode kelompok maupun metode mandiri harus digunakan. Banyak slswa dapat belajar mandiri, sementara siswa lainnya lebih senang belajar dalam situasi pengajaran yang beraturan dan terpimpin. Perbedaan di antara siswa ini mengharuskan kita menggunakan berbagai metode pengajaran yang berbeda pula.
Kedua, kondisi dan asas belajar menyebabkan kita tanggap akan perlunya memilih metode yang memberi peluang untuk peran serta yang aktif dari pihak siswa dalam segala kegiatan belajar.
Ketiga, jika kita slap menggunakan teknologi pengajaran yang baru (TV, komputer, dan lain-lain), penekanan biasanya diberikan pada penyajian kelompok, atau pada kegiatan belajar mandiri. Pada kedua Janis penyajian ini, tidak ada kesempatan berinteraksi antarguru-siswa secara tatap muka. Menyediakan bahan pengajaran yang cukup bagi kelompok kecil haruslah diperhatikan.


Keempat, ada persoalan dalam keefisienan dalam menggunakan waktu guru dan waktu siswa, sarana, dan peralatan. Untuk tujuan tertentu mungkin lebih efisien apabila guru menyajikan informasi kepada seluruh kelas secara serempak (dengan jumlah siswa berapa saja) deripada menguasai siswa dengan mempelajari bahan secara mandiri. Pengajaran kelompok yang demikian tidak hanya menghemat waktu, tetapi dapat juga mengurangi rusaknya peralatan dan bahan yang disebabkan oleh penggunaan yang berlebihan. Pengajaran semacam itu juga memberikan lepada guru waktu maksimal untuk bertatap muka dengan siswa, untuk bimbingan dan konsultasi perseorangan, serta untuk merencanakan pengajaran.
Secara keseluruhan, metode penyajian kelompok dan relajar mandiri, paling berhasil mencapai sasaran dalam ranah efektif dan psikomotor . Cara terbaik untuk mencapai sasaran dalam ranah efektif  adalah melalui kelompok kerja sama. Ketika menerima dan mengemukakan pendapat dalam diskusi, siswa dapat terdorong untuk belajar, membantu menajamkan pertimbangan, dan mengembangkan kemampuan untuk berdebat.
            Alasan di atas dan alasan lainnya menyebabkan hal berikut diperlukan untuk merencanakan pengajaran dengan berhasil : pemahaman terhadap pola belajar mengajar, manfaatnya dan kelemahannya, serta teknik yang dapat diterapkan di dalam setiap kategori. Sebelum meneliti ketiga pola ini, terlebih dahulu kita akan memperlihatkan beberapa rampatan yang dapat diterima secara umum yang berasal dari psikologi belajar.
            Kondisi dan asas belajar tertentu dapat diterapkan dengan berhasil pada pengembangan sejumlah kegiatan pada setiap pola belajar mengajar.

A.    Kondisi dan Asas untuk Belajar yang Berhasil
Pengajaran yang efektif ditandai oleh berlangsungnya proses belajar. Proses belajar dapat dikatakan berlangsung apabila seseorang sekarang dapat mengetahui atau melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui atau dapat dilakukan olehnya. Jadi, hasil belajar akan terlihat dengan adanya tingkah laku baru dalam tingkat pengetahuan berfikir atau kemampuan jasmaniah. Dikarenakan tugas perancangan pengajaran adalah membantu terjadinya proses belajar, anda harus menyadari dan memanfaatkan kondisi dan asas yang telah terbukti mendukung proses relajar tersebut dengan baik. Berikut ini disajikan statu pemberian tentang kondisi dan asas belajar, yang lebih penting dan lebih bermanfaat disertai pembahasan secara penerapan setiap kondisi dan asas tersebut dalam perencanaan pengajaran.

1. Persiapan Sebelum Mengajar
Siswa harus lulus dengan memuaskan dalam pelajaran prasarat sebelum melalui suatu program atau satuan pelajaran tertentu. Kalau hasil relajar sebelumnya tidak cukup dikuasai, pelajaran selanjutnya menjadi kurang berarti dan dipelajari dengan menghafal saja tanpa terjadinya perubahan tingkah laku apa pun.

2. Sasaran Belajar
Besar kemungkinan bahwa proses relajar akan berhasil dengan baik apabila sasaran dinyatakan dengan jelas, dan pada awal pokok bahasan atau satuan pelajaran, siswa diberi tahu tentang sasaran khusus yang akan di capai. Siswa dapat memperoleh informasi lebih banyak dan mengingatkannya dengan jangka waktu yang lebih lama apabila sasaran relajar ditulis dengan cermat dan disusun secara bersistem.

3. Susunan Bahan Ajar
Proses belajar dapat ditingkatkan apabila bahan ajar atau tata cara yang akan dipelajari tersusun dalam urutan yang bermakna. Kemudian, bahan tersebut harus disajikan pada siswa dalam beberapa bagian; banyak sedikitnya bagian tergantung urutan, kerumitan, dan kesulitanya. Susunan dan tata cara ini dapat membantu siswa dalam menggabungkan dan memandukan pengtahuan atau proses secara pribadi.

4. Perbedaan Individu
Siswa belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda-beda. Pelajaran kelompok memang menguntungkan untuk tujuan tertentu dan lebih disukai oleh beberapa siswa akan tetapi, bukti menunjukkan bahwa sebagian siswa dapat mencapai sasaran yang dipersyaratkan dengan cara yang paling memuaskan apabila mereka, dengan menggunakan bahan yang tepat, diperbolehkan belajar menurut kecepatan masing-masing.
5. Motivasi
Seseorang mau belajar apabila memang terjadi proses pembelajaran. Keinginan untuk belajar untuk mempersyaratkan adanya motivasi. Keinginan seperti ini akan timbul apabila (a) pengajaran dipersiapkan dengan baik sehingga dirasakan penting dan menarik untuk siswa, (b) tersedia berbagai pengalaman belajar, (c) siswa mengetahui bahwa bahan yang akan dipelajari akan digunakan sesegera mungkin, dan (d) pengakuan tentang keberhasilan belajar diberikan untuk mendorong upaya belajar selanjutnya.

6. Sumber Pengajaran
Jika bahan pengajaran, termasuk media seperti gambar dan rekaman video, dipilih dengan hati-hati dan dipadukan secara bersistem untuk menunjang berbagai kegiatan dalam program dalam pengajaran, akan terlihat dampak yang berarti dalam prestasi siswa. Sumber seperti itu melueskan pengajaran yang meningkatkan kesempatan untuk menyesuaikan pengajaran dengan kebutuhan perseorangan. Dengan demikian meningkatkan produktifitas, baik pada pihak siswa maupun guru.

7. Keikutsertaan
Agar proses pembelajaran berlangsung, siswa harus menghayati informasi dan tidak hanya disuapi saja. Mengikuti kegiatan secara aktif lebih disukai daripada mendengar dan menonton secara pasif berjam-jam. Keikutsertaan berarti siswa ikut memberikan respons dalam pikiran mereka atau menunjukkannya melalui kegiatan jasmani, yang disisipkan secara strategis selama berlangsungnya penyajian pengajaran atau peragaan.

8. Balikan
Motivasi untuk belajar dapat dilanjutkan atau ditingkatkan apabila siswa diberi tahu secara berkala tentang kemajuan mereka. Balikari memperkuat pemahaman dan kinerja yang benar, memberitahukari kesalahan, dan memperbaiki proses belajar yang salah. Untuk memperoleh hasil belajar yang memuaskan terdapat hubungan yang erat antara balikan dan penguatan.


9. Penguatan
Dengan memperoleh penegasan (balikan) tentang jawaban yang dipandang berhasil, siswa terdorong untuk meneruskan kegiatan belajarnya. Kegiatan belajar yang didorong oleh keberhasilan menimbulkan kepuasan dan percaya diri. Tanggapan yang mendapat tanggapan positif cenderung akan timbul berulang-ulang apabila siswa menghadapi suasana yang mirip atau sama.

10. Latihan dan Pengulangan
Agar suatu fakta atau keterampilan menjadi bagian yang kuat dart dasar pengetahuan siswa maka dibutuhkan lebih dari satu pengajaran. Sambil meneruskan asas keikutsertaan, balikan dan penguatan seperti diterangkan terdahulu, maka penyelesaian latihan tertulis, latihan berulang-ulang dalam suasana nyata, atau latihan beruntun untuk maksud menghafal, akan dapat mencapai tahap kelebihan belajar: Hasilnya adalah kemampuan mengingat dalam jangka panjang. Latihart menjadi sangat efektif apabila dilakukan dalam jangka waktu tertentu.

11. Urutan Kegiatan Belajar
Tugas atau tata cara yang rumit dapat dipelajari dengan lebih efektif apabila peragaan dan latihan diberikan secara terpadu. Pelatihan dlmaksudkan untuk melatihkan bagian-bagian dari tugas atau tata cara tersebut. Cara yang memuaskan untuk memadukan peragaan dengan pelatihan, antara lain (a) memperagakan seluruh tata cara langsung atau dari film atau video; (b) memperagakan kembali bagian pertama; (c) memberi kesempatan kepada siswa untuk melatih bagian pertama tata cara tersebut; (d) memperagakan bagian kedua; (e) memperagakan bagian ketiga; (f) memberi kesempatan untuk melatih bagian pertama, kedua, dan ketiga; dan seterusnya. Disarankan untuk memberikan ujian kemampuan akhir mengenai keseluruhan tugas yang diselesaikan.





12. Penerapan
Hasil penting dari kegiatan belajar adalah meningkatnya kemampuan slswa untuk menerapkan atau memindahkan apa yang telah dlpelajarinya kepada masalah atau situasi baru. Apabila siswa tidak dapat melakukan hal ini berarti pemahaman yang mendalam belum dlperoleh siswa tersebut. Pertama, siswa harus telah terbantu menemukan rampatan (konsep, kaidah, asa) yang berhubungan dengan pokok bahasan atau tugas. Kedua, kesempatan harus diberikan kepada slswa untuk bernalar dengan menerapkan rampatan ke berbagai jenis tugas atau masalah nyata dan baru. Agar dapat menggunakan asas Ini, harus ditulis, dicari, atau diciptakan masalah dan situasi nyata yang belum dikenal siswa atau berbeda dalam beberapa hal dengan digunakan selama pengajaran dan pelatihan. Kemudian, setiap menghadapi situasi baru, siswa harus mengenali unsur yang mirip dengan yang ditemukan dalam rampatan tersebut dan mengambil tindakan yang sesuai.

13. Sikap Mengajar
Sikap positif yang diperlihatkan pengajar dan asisten terhadap mata ajar yang disajikan pada siswa dan terhadap metode pengajaran yang digunakan, dapat memengaruhi motivasi dan sikap siswa terhadap suatu program pengajaran. Sudah merupakan keharusan bahwa setiap orang yang terlibat dalam penerapan dan pelaksanaan suatu program pengajaran memperlihatkan kegairahan, kerja sama, kesediaan menolong, dan minat terhadap bahan ajar. Apabila siswa merasakan atau benar-benar melihat ungkapan atau sikap positif seperti itu, slswa akan cenderung bertingkah laku positif. Hasilnya dapat sangat mendukung keberhasilan program pengajaran tersebut.

14. Penyajian di Depan Kelas
Dalam menggunakan pola penyajian kelompok, pengajar memberitahukan, menunjukkan, memperagakan, menguraikan dengan cara mengesankan, atau menyebarkan bahan ajar kepada sekelompok siswa. Pola ini dapat digunakan di kelas, di aula, atau di berbagai tempat dengan menggunakan radio, telepon yang dilengkapi pengeras suara, transmisi sirkuit pendek, atau komunikasi satelit. Guru dapat berbicara di depan kelas. Ia dapat pula menggunakan bahan media pandang seperti bening, rekaman, slide, film atau rekaman video, masing-masing secara terpisah atau dalam kombinasi nekasantir. Penyajian dapat pula berlangsung tanpa guru, misalnya slide yang diikuti rekaman dalam kaset atau dalam format video. Semua kegiatan ini menggambarkan alih informasi satu arah dari guru kepada sering untuk jangka waktu tertentu (biasanya satu jam pelajaran berlangsung selama 40-50 menit). Pada kelas kecil terjadi komunikasi dua arah antara guru dengan siswa, namun sering sekali siswa mendengarkan dengan pasif dan menonton saja.

D. Metode Penyajian
1. Keunggulan Metode Penyajian
Manfaat memilih metode penyajian untuk pencapaian sasara pengajaran tertentu mencakup hal-hal berikut ini.
a. Ceramah atau format penyajian lainnya adalah metode yang telah, dikenal dan diterima secara konvensional, baik di kalangan pengaj*: maupun siswa. Metode ini merupakan metode utama dan kebanyakg dari kita belajar dari mengajar yang menggunakan metode int Memang mudah untuk melanjutkan kebiasaan ini.
b. Pada umumnya diperlukan upaya dan pemikiran minimal untu merencanakan penyajian ceramah karena pengajar sudah mengena dan berpengalaman dengan metode ini.
c. Ada beberapa pengajar yang merasa bahwa untuk nnempertahankaii status mereka atau mepambah wibawa di mata siswa, mereka perlu berbicara di depan kelas.
d. Dari segi tujuan pelajaran, waktu dapat dihemat karena dalam jangkit waktu tertentu lebih banyak informasi dapat disajikan denga metode penyajian daripada dengan metode lain.
e. Sejumlah besar siswa dapat dilayani dalam waktu yang sama, yan jadi pembatas hanyalah ukuran ruangan.
f. Jika diperlukan, penyajian dapat diubah dengan penyajian bahan. ajar tertentu, atau menambahkan bahan baru sebelum atau bahkan ketika pengajar menyajikan bahan ajar. Penyajian pun dapat disesuaikan untuk siswa tertentu.
Cara ini layak untuk diterapkan sebagai metode komunikasi apabil
g. informasi yang akan disampaikan mengharuskan sering terjadiny perubahan dan pemutakhiran.
2. Kelemahan Metode Penyajian
Kelemahan metode penyajian terbukti melalui keterangan berikut.
a. Siswa dibatasi keikutsertaannya, mereka hanya menonton, mendengar, mencatat, dan hanya sedikit atau sama sekali tidak ada kesempatan untuk bertukar pendapat dengan pengajar. Metode ini tampaknya melanggar sebagian besar asas belajar efektif yang telah dibahas sebelumnya.
b. Adanya keharusan bagi pengajar untuk menyajikan bahan ajarnya dengan cara yang menarik, bergairah, dan penuh tantangan agar perhatian siswa tetap tertuju pada penyajiannya selama pelajaran berlangsung.
c. Ketika guru memberikan ceramah atau memperagakan sesuatu kepada siswa di kelas, diandaikan siswa memperoleh pengertian yang sama, tingkat pemahaman yang sama, dan pada waktu yang sama pula. Mereka dipaksa mempelajari sesuatu dengan kecepatan yang ditentukan guru.
d. Apabila diizinkan bertanya, pengajaran akan terhenti dan beberapa siswa terpaksa menunggu sampai pertanyaan itu terjawab sebelum dapat mengikuti penyajian seianjutnya.
e. Pengajar sulit mendapat balikan dari siswa sehubungan dengan kesalahan dan kesulitan yang dihadapi siswa selama penyajian. Karena itu, beberapa siswa mungkin memperoleh pemahaman yang salah pada akhir ceramah tersebut.
f. Terdapat bukti bahwa bahan penyajian lisan saja tanpa disertai keikutsertaan siswa secara terencana, hanya dapat diingat dalam jangka waktu yang pendek.
g. Penyajian bukaniah metode yang dapat diterapkan untuk mengajarkan keterampilan psikomotor, dan sasaran dalam ranah efektif hanya terpengaruh sedikit sekali.

3. Penerapan
Ada situasi dan waktu tertentu yang cocok untuk penyampaian bahan ajar dengan metode penyajian kepada sekelompok siswa, yaitu sebagai berikut.
a. Sebagai pendahuluan, ikhtisar, atau pengaran pokok bahasan baru.
b. Bertujuan untuk memberi semangat atau membangkitkan tujuan untuk mempelajari sebuah bahan ajar atau pokok bahasan.
c. Untuk menyampaikan informasi penting atau infomasi mendasar sebagai latar belakang umum atau persiapan yang diperlukan, yang tidak mudah diterima sebelum siswa mengikuti kegiatan kelompok kecil atau kegiatan perseorangan.
d. Untuk memperkenalkan perkembangan mutakhir dalam suatu bidang, terutama apabila waktu persiapan terbatas.
e. Sebagai narasumber, umpamanya sebagai pembicara tamu yang memberikan satu kali penyajian, untuk penyajian film, atau penyajian visual lainnya yang sangat cocok dan efisien untuk diinformasikan kepada siswa dalam kelas secara sekaligus.
f. Untuk memberi kesempatan kepada siswa menyajikan laporan di depan kelas.
g. Sebagai ikhtisar atau rangkuman ketika menyelesaikan pengajaran tentang sebuah pokok bahasan atau satuan pelajaran.

4. Rencana Keikutsertaan
Akhir-akhir ini terdapat kecenderungan mengurangi waktu untuk pola penyajian bahan ajar dan lebih menyukai pola belajar mandiri dan kegiatan kelompok kecil. Anda harus menimbang secara hati-hati keunggulan dan kelemahan pola pengajaran dari segi sasaran pengajaran yang akan dicapai. Kemudian, apabila penyajian ini layak, putuskan bagaimana bentuk penyajian tersebut; ceramah lisan, ceramah dengan media penunjang, media saja, atau apa pun yang dianggap cocok.
Ingatlah bahwa proses belajar akan berlangsung dengan balk apabila siswa terlibat secara aktif. Karena itu, perlu direncanakan kegiatan yang mengikutsertakan siswa pa4a waktu menggunakan format penyajian.
Keikutsertaan dapat dibagi ke dalam tiga jenis.
a. Interaksi aktif dengan pengajar. Siapkan pertanyaan yang akan digunakan di berbagai kesempatan selama penyajian lisan; dorong atau arahkan siswa untuk menjawab dan berdiskusi dengan pengajar.
b. Kerja di tempat. Dorong siswa untuk mencatat sehingga akan menangkap butir-butir penting dalam penyajian atau sediakan lembaran berisi hal-hal penting untuk acuan yang dapat langsung digunakan. Yang terakhir ini dapat berupa lembaran kerja mengenai pokok bahasan yang meminta siswa mengisi suatu garis besar tentang isi bahan ajar, untuk menyelesaikan diagram yang menyertai media yang digunakan dalam penyajian, menuliskan jawaban berbagai pertanyaan, memecahkan masalah, dan menerapkan bahan ajar dan konsep selama penyajian berlangsung.
c. Kegiatan berpikir lain. Dorong siswa untuk berpikir bersama pengajar dengan membantu mereka menjawab dalam hati pertanyaan retorik atau pertanyaan langsung dan memecahkan masalah yang diajukan oleh pengajar atau siswa lain. Siswa dapat
juga dImInta merumuskan pertanyaan mereka sendiri yang berhubungan dengan bahan yang disajikan yang akan digunakan dalam pertemuan kelompok kecil nantinya.

E. Belajar Mandiri
Dari ketiga pola mengajar dan belajar, belajar mandiri memperoleh perhatian terbanyak dalam rencana rancangan pengajaran. Sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai prinsip belajar, terdapat bukti untuk menunjang pendapat bahwa belajar harus dilakukan oleh individu untuk dirinya sendiri dan bahwa hasil belajar maksimal diperoleh apabila siswa bekerja menurut kecepatannya sendiri, terlibat aktif dalam melaksanakan berbagai tugas belajar khusus, dan mengalami keberhasilan dalam belajar.

1. Ciri
Metode belajar yang sesuai kecepatan sendiri juga disebut be/ajar mandiri, pengajaran sendiri, atau belajar dengan mengarahkan diri sendiri. Meskipun semua istilah ini mempunyai arti yang berbeda, ciri penting bagi siswa adalah tanggung jawab sendiri, sesuai dengan kecepatan sendiri, dan belajar yang berhasil. Semuanya berdasarkan pada sasaran belajar khusus dan bermacam-macam kegiatan dengan beraneka sumber belajar yang berkaitan. Sebagaimana yang telah Anda ketahui, semuanya ini merupakan unsur penting dalam proses perancangan pengajaran.
Seringkali pengajar memilih sasaran belajar dan menetapkan persyaratan yang harus dipenuhi oleh siswa. Sebuah metode belajar perseorangan "yang sebenarnya" atau program belajar mandiri mempersyaratkan bahwa seperangkat sasaran dan kegiatan belajar yang terpisah harus dirancang untuk setiap orang, atau dipillh oleh perseorangan menurut ciri, persiapan, kebutuhan, dan minat orang itu sendiri. Melalui penjadwalan komputer, belajar mandiri seperti ini dapat dicapai, meskipun pembuatan programnya sangat rumpil dan memerlukan jumlah dan jenis kegiatan serta sumber belajar yang banyak.
Ciri khusus program belajar mandiri yang bermutu meliputi hal-hal berikut.
a. Kegiatan belajar untuk siswa dikembangkan dengan cermat dan rinci. Pengajaran sendiri berlangsung dengan balk apabila bahan disusun menjadi langkah-Iangkah yang terpisah dan kecil, masing-masing membahas satu konsep tunggal atau sebagian dari bahan yang diajarkan. Besar langkah bisa berbeda-beda, namun urutannya perlu diperhatikan dengan teliti.
b. Kegiatan dan sumber pengajaran dipilih dengan hatl-hati dengan memerhatikan sasaran pengajaran yang dipersyaratkan.
c. Penguasaan siswa terhadap setiap langkah harus diperiksa sebelum is melanjutkan ke langkah berikutnya. Karena itu, kita perlu menanyai atau menantang siswa untuk menunjukkan kepahamaq mereka atau penggunaan bahan yang dipelajari.
d. Siswa kemudian harus segera menerima kepastian (balikan) tentan4 kebenaran jawabannya atau upaya lainnya. Setiap keberhasilan menimbulkan rasa percaya diri pada siswa untuk melanjutkan ke langkah berikutnya.
e. Apabila muncul kesulitan, siswa mungkin perlu mempelajari atau meminta bantuan pengajar. Jadi, siswa secara terus-menerus ditantang, harus menyelesaikan kegiatan yang diikutinya, langsung mengetahui hasil belajar atau usahanya, dan merasakan keberhasilan.
Jenis sasaran pengajaran yang mungkin cocok untuk belajar. mandiri antara lain:
a. mempelajari informasi nyata,
b. menguasai konsep dan asas,
c. menerapkan informasi, konsep, dan asas,
d. mengembangkan keterampilan dasar memecahkan masalah, dan e. mengembangkan keterampilan psikomotor.
Dengan demikian, sebagian besarjenjang belajar, balk dalam ranah kognitif maupun psikomotor, serta dalam hierarki Gagne, bisa dibahas dengan beberapa bentuk kegiatan belajar mandiri. Kebanyakan dari kategori sasaran tersebut harus diperkuat dan ditambah dengan kegiatan interaksi kelompok. Pokok bahasan atau sasaran yang sangat abstrak dan tidak bisa dikuantifikasi, seperti pemikiran filsafati atau hubungan antarmanusia, mungkin lebih tepat untuk dipelajari dalam pertemuan interaksi kelompok. Namun, dengan pelajaran seperti ini, selalu ada informasi mendasar dan nyata yang harus dikuasai sebelum berbagai pendapat dibahas di dalam kelompok. Bahan ajar mendasar seperti itu dapat dipelajari melalui metode belajar mandiri.

2. Keunggulan
Terdapat berbagai fakta yang menyatakan bahwa siswa yang ikut dalam program belajar mandiri belajar lebih keras, lebih banyak, dan mampu lebih lama mengingat hal yang dipelajarinya dibandingkan dengan siswa yang mengikuti kelas konvensional. Belajar mandiri memberikan sejumlah keunggulan unik sebagai metode pengajaran.
 a. Program belajar mandiri yang dirancang dengan cermat akan memanfaatkan Iebih banyak asas belajar yang disebutkan pada awal bab ini. Hasilnya adalah peningkatan, baik dari segi jenjang belajar maupun kadar ingatan. Jumlah siswa yang gagal dan menunjukkan kinerja yang tidak memuaskan dapat dikurangi secara nyata.
b. Pola ini memberikan kesempatan, balk kepada siswa yang lamban maupun yang cepat untuk menyelesaikan pelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing dalam kondisi belajar yang cocok.
c. Rasa percaya diri dan tanggung jawab pribadi yang dituntut dari siswa oleh program belajar mandiri mungkin dapat berlanjut sebagai kebiasaan dalam kegiatan pendidikan lain, tanggung jawab atas pekerjaan, dan tingkah laku pribadi.
d. Program belajar mandiri dapat menyebabkan lebih banyak perhatian tercurah kepada siswa perseorangan dan memberi kesempatan yang lebih luas untuk berlangsungnya interaksi antarsiswa.
e. Kegiatan dan tanggung jawab pengajar yang terlibat dalam pro¬gram belajar mandiri berubah karena waktu untuk penyajian menjadi berkurang dan is mennpunyai waktu lebih banyak untuk memantau siswa dalam pertemuan kelompok dan untuk konsultasi perseorangan.
f. Memang pendekatan utama ke arah belajar mandiri mungkin tidak efisien dari segi biaya dalam jangka pendek, namun karena teknik dan beraneka sumber digunakan berulang-ulang dengan kelompok selanjutnya, biaya program dapat dikurangi secara nyata.
g. Siswa cenderung lebih menyukai metode belajar mandiri daripada metode tradisional karena sejumlah keunggulan yang dinyatakan di atas.

3. Kelemahan
Terdapatjuga beberapa kelemahan belajar mandiri yang harus diketahui.
a. Mungkin kurang terjadi interaksi antara pengajar dengan siswa atau antara siswa dengan siswa apabila program belajar mandiri dipakai sebagai metode satu-satunya dalam mengajar. Karena itu, perlu direncanakan kegiatan kelompok kecil antara pengajar dan siswa secara berjangka.
b. Apabila hanya dipakai metode satu jalur dengan langkah tetap, kegiatan belajar bisa membosankan dan tidak menarik.
c. Program mandiri tidak cocok untuk semua siswa atau semua pengajar. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa karena perbedaan gaya belajar dan mengajar, kira-kira 20% mahasiswa perguruan tinggi Iebih menyukai belajar dalam kelompok melalui ceramah dan kegiatan interaksi daripada melalui kegiatan perseorangan.
d. Kurangnya disiplin diri, ditambah lagi dengan kemalasan, menyebabkan kelambatan penyelesaian program oleh beberapa siswa. Kebiasaan dan pola perilaku baru perlu dikembangkan sebelum dapat berhasil dalam belajar mandiri. Dikarenakan alasan ini, lebih baik menetapkan batas waktu (mingguan atau bulanan) yang dapat disesuaikan oleh siswa menurut kecepatannya masing-masing.
e. Metode belajar mandiri sering menuntut kerja sama dan perencanaan tim yang rinci di antara staf pengajar yang terlibat. Selain itu, koordinasi dengan pelayanan penunjang (sarana, media, percetakan, dan lain-lain) mungkin diperlukan atau bahkan merupakan suatu keharusan. Semua ini berlawanan dengan ciri pengajaran tradisional yang hanya dilakukan oleh seorang guru saja.

4. Tata cara
Dalam merencanakan belajar mandiri, banyak pendekatan yang dapat diterapkan. Yang termudah adalah dengan merancang suatu jalur tunggal untuk semua siswa dan memilih bahan pengajaran apa saja yang dibutuhkan di antara beraneka bahan komersial yang tersedia (bahan cetak, alat peraga, foto, rekaman video, dan lain-lain). Bahan seperti itu telah dirancang untuk disajikan secara konvensional, sehingga sedikit atau bisa tidak ada sama sekali keikutsertaan yang dituntut dari siswa. Untuk memberikan peluang bagi keikutsertaan, pengajar mungkin perlu membuat lembar kerja atau alat bantu lain yang meminta siswa untuk segera menanggppi atau melakukan sesuatu sebagai reaksi terhadap informasi dalam setiap bagian bahan ajar setelah disajikan.
Kita mengetahui bahwa tidak semua siswa belajar dengan kecepatan sama. Karena itu, mereka harus diperbolehkan belajar sesuai dengan waktu yang cocok bagi mereka dan juga menentukan sendiri kecepatan mereka. Seseorang mungkin ingin agak lama mempelajari bahan tertentu dan lebih cepat dengan bahan yang telah dipahaminya.
Cara yang lebih baik untuk merencanakan belajar mandiri adalah memulai dengan bermacam-macam bahan agar mencapai sasaran dan kemudian merencanakan lebih dari satu urutan pengajaran untuk memberikan peluang kepada perbedaan di antara siswa secara perseorangan. Berdasarkan atas persiapan dan kebutuhan, beberapa siswa mungkin mengambil jalur tercepat, bahkan berpacu dan menggunakan sedikit bahan saja untuk sampai pada ujung jalur tersebut. Siswa lain mungkin memerlukan jalur yang lebih lambat yang penuh dengan ilustrasi konkret atau contoh, lebih banyak latihan, telaahan, atau bahkan bagian kecil dari bahan ajar dengan pengulangan penjelasan dalam tautan yang berbeda-beda.
Setiap orang berbeda dalam gaya belajar. Beberapa siswa merasa paling bermanfaat apabila mereka belajar dari bahan visual, sementara yang lain dari media cetak, atau dengan pengalaman sendiri. Karena itu, mungkin lebih baik apabila kita mengumpulkan atau menyiapkan bermacam-macam bahan untuk membahas seperangkat sasaran pengajaran, kemudian mendorong setiap siswa untuk memilih cara belajar yang mereka sukai. Sebagai contoh, apabila sebuah sasaran menuntut penggunaan perlengkapan laboratorium, program yang dirancang untuk menguasai sasaran tersebut mungkin memberikan penjelasan dengan bahan cetak, foto, film atau video dengan waktu putar pendek, dan perlengkapan itu sendiri. Seorang siswa mungkin mulai dengan menyaksikan peragaan lewat video yang disusul dengan latihan dengan menggunakan perlengkapan; siswa lain mungkin lebih suka memulai dengan membaca lembar petunjuk, lalu disusul dengan memerhatikan sejumlah foto sebelum berlatih menggunakan perlengkapan; siswa yang lain lagi mungkin langsung menggunakan perlengkapan secara coba-coba.
Ringkasnya, dengan menyadari bahwa keikutsertaan aktif merupakan unsur terpenting untuk belajar, perancang berbagai pengajaran dapat mengembangkan berjenis-jenis pengalaman bagi para siswa. Pengalaman belajar ini dapat berkisar dari suatu program yang terstruktur yang memberi kesempatan kepada siswa untuk maju sesuai dengan kecepatannya sendiri sampai kepada program yang memberikan kebebasan dan tanggung jawab penuh kepada siswa untuk memilih kegiatan dan bahan pelajaran mereka sesuai dengan gaya belajar atau selera mereka masing-masing.

5. Contoh
Beberapa tata cara untuk melaksanakan belajar sesuai dengan kecepatan sendiri diuraikan berikut ini. Tata cara ini dimulai dari penggunaan bahan dipersiapkan sendiri dalam bentuk yang sederhana, bahan yang diperdagangkan yang perlu penyesuaian, sampai pada program mandiri berskala besar yang dirancang secara bersistem.

6. Kontrak Siswa
Siswa membuat perjanjian dengan pengajar untuk mencapai sasaran yang dapat diterima, sering dengan menyelesaikan suatu tugas untuk memperoleh imbalan (angka kredit, izin untuk ikut dalam kegiatan khusus, atau untuk bebas dari tugas). Bisa saja pengajar yang menyarankan sumber belajar, tetapi bisa juga siswa itu sendiri yang memutuskan apa yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran dan melaksanakan tugas.

7. Buku Ajar/ Lembar Kerja
Untuk dapat mempelajari isi buku ajar atau bahan cetak lain yang dipakai sebagai bagian yang terpadu dalam mata ajar, siswa sering kali memerlukan bimbingan. Hal ini terjadi karena keterampilan membaca dan bahasa siswa terbatas.
Sejumlah sasaran dikembangkan dari bahan dalam buku ajar. Sementara itu, lembar kerja mengarahkan siswa untuk dapat mempelajari bab-bab dalam buku ajar dan menyediakan latihan yang harus dikerjakan, pertanyaan yang harus dijawab, dan kegiatan lainnya. Ujian swaperiksa atau tugas untuk menerapkan bahan yang dipelajari mengakhiri telaahan setiap bab. Setelah menyelesaikan semua tugas, siswa seharusnya menjadi lebih slap untuk mengikuti tugas yang diberikan dalam kelas yang menuntut tidak saja pemahaman, tetapi juga penerapan bahan buku ajar.

8. Buku Belajar Mandiri Terprogram Atau Pengajaran Berdasarkan Komputer
Sebuah buku ajar mandiri atau program komputer menyajikan secara berurutan informasi yang mengupas pokok bahasan dalam bagian¬bagian. Program ini pada umumnya mengandung suatu pernyataan tentang sejumlah sasaran, uji-awal, dan sederetan "bingkai" dalam urutan lurus atau bercabang (yang mempunyai pilihan alternatif). Siswa menanggapi secara bertahap pertanyaan yang menguji kepahamannya tentang bahan yang dipelajari. Hasil belajar dapat langsung diketahui. Pada akhir setiap urutan atau program, tersedia ujian mengenai apa yang baru dipelajari. Tata cara yang menggunakan buku ajar mandiri atau pengajaran berdasarkan komputer ini disebut belajar interaktif.
Sumber belajar seperti yang telah dikemukakan dapat memenuhi berbagai tujuan penting.
a. Menyiapkan bahan ajar untuk berbagai bagian khusus dan sebuah mata ajar yang mempersyaratkan penguasaan berbagai istilah dasar dan beraneka fakta tertentu.
b. Mengarahkan penelaahan atau pelajaran perbaikan tentang suatu pokok bahasan.
c. Memberikan penjelasan rinci tentang suatu pokok bahasan, termasuk penerapan simulasi mengenai bahan ajar.
Penggunaan program komputer makin lama makin meningkat dalam upaya memenuhi kebutuhan yang dulunya dipenuhi oleh buku ajar mandiri.

9. Pita Rekaman Suara/Lembar Kerja
Dengan sebuah pita rekaman suara dan lembar kerja, siswa membaca informasi, merujuk pada diagram atau media pandang lain, memecahkan masalah, dan menyelesaikan kegiatan lain atas petunjuk suara pengajar dalam pita rekaman. Rekaman ini memberi petunjuk, informasi, penjelasan tentang jawaban, dan bantuan tutorial lainnya.
            Gabungan pita rekaman suara dan lembar kerja dapat dikembangkan untuk menguraikan pokok bahasan tertentu dalam mata ajar yang belum ada bahan pengajarannya atau yang membutuhkan pendekatan unik. Pita rekaman yang berisi suara pengajar merupakan metode penyajian yang bersifat pribadi, informal, dan menarik. Gabungan tersebut merupakan paket yang dapat dipakai dengan mudah oleh siswa di mana saja atau kapan saja.

10. Media Pandang/ Lembar Petunjuk
Media pandang dengan lembar petunjuk dapat dipakai apabila siswa memerlukan pengarahan atau petunjuk untuk menjalankan suatu perlengkapan, melaksanakan suatu proses, atau menyelesaikan suatu kegiatan dengan cermat. Semua bahan ini sering disebut alat bantu kerja. Media pandang, baik dalam bentuk gambar diam ataupun film, dapat mengarahkan siswa melewati langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas khusus.
Terdapat banyak pilihan untuk merancang bahan baru atau menyelesaikan bahan yang telah ada. Pilihan tersebut termasuk foto, slide, film, rekaman video, dan/atau lembar petunjuk tercetak. Media pandang dapat ditempatkan di bengkel kerja, laboratorium, atau toko, atau dipersiapkan untuk dapat diambil dan dipelajari kapan saja jika diperlukan. Apabila media pandang digabungkan dengan lembar petunjuk tercetak yang merangkum suatu pelaksanaan kegiatan atau memberikan informasi mengenai fakta atau informasi tambahan, kita akan mendapatkan paket belajar sendiri yang lengkap tentang suatu pokok bahasan.

11. Paket Nekamedia
Seperti yang tercermin dari namanya, paket nekamedia terdiri atas beberapa jenis bahan sumber media, yang dipakai pada waktu bersamaan atau secara berurutan dalam situasi belajar mandiri. Suatu paket biasanya menjelaskan pokok bahasan tunggal dalam sebuah mata ajar. Paket dapat memberikan pengajaran untuk pokok bahasan yang memerlukan foto keadaan sesungguhnya atau lambang berupa diagram dengan penjelasan lisan.
Paket nekamedia yang disiapkan untuk diperdagangkan terdapat dalam berbagai bentuk: slide atau seperangkat carikan film dengan kaset dan bahan cetak yang berkaitan; atau suatu program komputer interaktif/sistem kaset video atau piringan video dengan bahan cetak. Bahan cetak dapat mencakup gabungan antara bacaan, lembar kerja, dan latihan swauji. Di samping itu, perlengkapan dan peralatan mungkin juga merupakan bagian dari seperangkat alat yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan.
Sebagai bagian dari paket ini perlu ada silabus atau pedoman bagi pemakai, yang menjelaskan: (a) sasaran belajar paket, (b) pedoman penggunaan, dan (c) cara menilai hasil penggunaan paket.

12. Sistem Pengajaran Perseorangan (PSI=Personalized System of Instruction)
Metode PSI dengan belajar mandiri (dikembangkan oleh psikolog Fred Keller dan sering disebut Rencana Keller) adalah pendekatan yang dapat diterapkan pada suatu pelajaran yang lengkap. Pendekatan ini umumnya berdasarkan pada sebuah buku ajar dengan satuan pelajaran yang terdiri atas bacaan, pertanyaan, dan soal. Sumber pengajaran tidak hanya dibatasi pada bahan tertulis saja. Media lain, baik berupa media pandang dan/atau dengar, dapat disisipkan.
Setelah mempelajari setiap bagian bahan dan menjawab seperangkat pertanyaan yang berkaitan atau menyelesaikan berbagai kegiatan, siswa melaporkan kepada pengawas atau tutor bahwa ia siap untuk diuji tentang bagian tertentu dari bahan ajar. Setelah ujian selesai dikerjakan, segera dinilai oleh pengawas (siswa lain yang telah menyelesaikan pelajaran dengan berhasil), yang kemudian menunjukkan hasil ujian tersebut kepada siswa. Apabila siswa berhasil dengan memuaskan (umumnya dengan tingkat kemampuan 80-90%), ia dapat melanjutkan ke bab atau satuan pelajaran berikutnya. Apabila tingkat (ditentukan oleh ujian) belajar yang telah dipersyaratkan tidak dicapai,' siswa harus mempelajari kembali bahan ajar tersebut, dan apabila sudah siap, menempuh ujian lagi dalam bentuk lain.
Tata cara ini berulang sampai siswa mencapai keberhasilan sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan. Meskipun beberapa mata ajar. dipelajari secara perseorangan, tidak semua proses belajar harus berlangsung sendirian seperti itu. Beberapa pengajar mengadakan pertemuan dengan kelas atau kelompok kecil siswa untuk memberikan ceramah dan berdiskusi. Di samping itu, hubungan antara siswa' perseorangan dengan pengawas, untuk tujuan evaluasi dan balikan langsung, dapat mendorong kegiatan belajar selanjutnya.

13. Metode Tutorial dengan Media Suara (Metode AT = Audio- tutorial method)
Suatu pendekatan bersistem lengkap lainnya untuk belajar nnandiri adalah metode AT - tutorial dengan media suara. Pendekatan dirancang oleh botaniwan Samuel N. Postlethwait. Prosesnya meliputi tiga komponen utama: (a) pertemuan kelompok besar (kelas), biasanya dilakukan setiap minggu dan mempunyai sejumlah tujuan, seperti memperkenalkan pokok bahasan baru, mernperkenalkan pembicara tamu, mempertunjuk can film, atau melaksanakan ujian; (b) kegiatan belajar mandiri di laboratorium yang sesuai dengan pelajaran itu; (c) pertemuan diskusi kelompok, yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, melaporkan sesuatu, dan ikut dalam bentuk interaksi lainnya.
Disediakan sebuah pedoman belajar yang terdiri atas sejumlah sasaran belajar, kegiatan, latihan, dan ujian swaperiksa. Pita rekaman suara digunakan selama periode belajar mandiri untuk membimbing siswa melalui pengalaman belajar. Isi rekaman tersebut tidak berupa ceramah. Suara pengajar pada pita rekaman memberikan beberapa informasi, bimbingan tutorial, dan pengarahan bagi siswa. Kegiatan yang diarahkan oleh suara dalam kaset dapat mencakup membaca buku dan artikel, mempelajari bahan yang ditayangkan lewat media pandang, menjawab pertanyaan pada lembar kerja, melaksanakan kegiatan laboratorium apabila diperlukan. Pita rekaman juga memberikan jawaban kepada siswa sebagai balikan tentang pelajaran. Pengajar atau asisten biasanya berada di laboratorium dan siap melayani siswa dalam menjawab pertanyaan.











F. Latihan
1. Kemukakan kegiatan guru dalam pembelajaran!
2. Kemukakan ciri pembelajaran yang efektif!
3. Jelaskan kondisi dan asas belajar yang dianggap berhasil!
4. Jelaskan beberapa metode pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan daya tarik pembelajaran!
5. Kemukakan kelebihan dan kekurangan berbagai metode pembelajaran!
6. Kemukakan karakterisktik belajar mandiri!
7. Kemukakan berbagai jenis media pembelajaran!
8. Jelaskan perbedaan media pembelajaran yang bersifat audio, visual, dan audiovisual!

                                                 
Pendidikan akan tumbuh dalam suasana membangun persahabatan. Dalam pergaulan
tertanam nilai-nilai pendidikan yang akan menjadi jati did masyarakat bangsa.

SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dan tanggapan kelompok dapat disimpulkan “Jabatan Profesional dan Tantanagan Guru dalam Pembelajaran Jabatan” guru merupakan jabatan profesional yang menghendaki orang yang menjabat sebagai guru harus bekerja profesional. Bekerja dengan profesional berarti harus berbuat dengan keahlian. Oleh karena itu seorang guru perlu memiliki kemampuan merancang dan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang dianggap cocok dengan materi pembelajaran, termasuk di dalamnya memanfaatkan bebagai sumber dan media pembelajaran untuk menjamin efektifitas pembejaran. Selain itu, sebagai jabatan yang professional seorang guru harus mempunyai berbagai kompetensi yang meliputi kompetensi intelektual, kompetensi pedagogi, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian;
Guru BK secara bertahap dapat ditingkatkan kemampuannya menjadi pembimbing profesional, yang menguasai berbagai kemampuan, keterampilan dan teknik-teknik intelektual serta mampu menampilkan layanan yang unik dan bermakna bagi perkembangan semua siswa di sekolah melalui pendidikan lanjutan, pelatihan dan atau workshop. Mengingat kekuatan, kelemahan yang terdapat pada guru pembimbing untuk menjadi pembimbing profesional, serta peluang dan ancamannya, maka pembimbing sekolah merupakan prioritas pertama untuk dikembangkan menjadi pembimbing profesional melalui workshop dan pelatihan. Dalam kaitan itu perencanaan strategik dan teknik peningkatan mutu berdasarkan kompetensi merupakan pendekatan yang digunakan dalam penyusunan program peningkatan mutu pembimbing. Program pengembangan profesionalitas pembimbing sekolah dirancang berdasarkan pilihan nilai filsafah negara Pancasila, Spesifikasi hasil program diarahkan untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan tertentu yang belum dikuasai pembimbing sekolah dalam menjalankan tugasnya. Isi program pengembangan pembimbing sekolah, mencakup aspek-aspek; hubungan antarpribadi; penyusunan dan pengembangan program; konseling individual dan kelompok serta keterampilan konseling; konsultasi; testing; dan dasar-dasar penelitian.
DAFTAR PUSTAKA


Hamzah Uno,(2007). Profesi Kependidikan; problema, solusi,dan reformasi pendidika di   Indonesia.jakarta : Penerbit Sinar Grafika Offset.
Sudianto, Akur. (2008). Konselor Dan Profesi Konseling (Pengembangan
Profesionalitas Konselor Sekolah/Madrasah Dalam Jabatan).Padang: Makalah Konvensi Nasional II IKI dan Seminar Internasional Konseling.

Usman, Uzer, Muh .(2001). Menjadi Guru Profesional. Bandung : Rosda Karya

Soetjipto.(2000). Profesi Keguruan. Jakarta : Rineka Cipta

Ikatan Konselor Indonesia (Divisi ABKIN), (2008). Arah pemikiran pengembangan profesi konselor.
Djam’an Satori,(No Year).Profesi Keguruan.Jakarta:Penerbit Universitas Terbuka.
Buchari Alma.(2009) Guru Profesional Menguasai Metode dan Trampil
Mengajar. Bandung:Penerbit ALFABETA.
Juhri AM., (1997). Kepemimpinan dan Superfisi Pengajaran dalam Teori dan
Praktek. Bandar Lampung : Gunung Pesagi.
Mulyasa,(2002).Kurikulum Berbasis Kompetensi; Konsep, Teori,dan Implementasi.
Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.
Soetjipto dan Rafllis Kosasih, (1999). Profesui Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta
Syafrudin Nurdin dan Basyirudin Usman .(2003). Guru Profesional dan
Implementasi Kurikulum. Jakarta: Penerbit Ciputra Press.
Udin Syarifudin saud.(2009). Pengembangan Profesi Guru.
Bandung: Penerbit ALFABETA.
Zainal Aqib dan elham rahmanto. (2007). Membangun Profesionalisme Guru dan
Pengawas Sekolah. Bandung: CV YRAMA WIDYA
Undang-Undang No 14 Tahun 2005. Tentang Guru dan Dosen serta Standar Nasional
Pendidikan . Jakarta: CV Tamita Utama
http://einsteinfisika.blogspot.com/2011/07/jabatan-profesional-dan-tantang-guru.html




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan anda dan kritik anda sangat berarti demi kemajuan saya terimakasih atas saran-saran dari anda semua semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua.... Amiin