Jumat, 22 Maret 2013

KONSEP TENTANG TOLOK UKUR KEBERHASILAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING


KONSEP TENTANG TOLOK UKUR KEBERHASILAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

No
Aspek
Indikator/Prediktor
Input
Proses
Output
1.
Klien
1.Kesediaan
2.Kesadaran
3.Spiritnya
4.Komitmen
5.Kebutuhan menyelesaikan masalah
6.Kemampuan/ketrampilan komunikasi (menerima,mengolah)
7.Kepercayaan Diri klien
1. Hadir
2. Aktif
3. Terlibat
4. Pengambilan inisiatif
5.Tanggung Jawab
1.Senang
2.kepuasan
3.Keceriaan
4.Kepercayaan   diri
5.Tidak ulangi kesalahan
2
Konselor
1. Syarat berkenaan dengan kepribadian.
2. Syarat yang berkenaan dengan pendidikan.
3.Syarat yang berkenaan dengan pengalaman.
4.Syarat yang berkenaan dengan kemampuan.
5.Profesionalisme
6.Ketrampilan attending (Attendiing Skills)
7.Ketrampilan mendengarkan (3M : Mendengar dngan baik, Memahami dengan cermat, Merespon dengan tepat).
8.Ketrampilan berempati (Emphaty Skills)
9.Ketrampilan eksplorasi
10.  Ketrampilan bertanya
11.  Ketrampilan menangkap pesan utama (paraharasing)
12.  Ketrampilan memberikan dorongan minimal.
1.Ketrampilan menyimpulkan sementara
2.Ketrampilan memimpin
3. Ketrampilan memfokuskan.
4. Ketrampilan melakukan konfrontasi
5. Ketrampilan menjernihkan (clarifying)
6. Ketrampilan memudahkan (facilitating)
7. Ketrampilan mengarahkan (directing)
8. Ketrampilan memberikan dorongan minimal (Minimal Encauragement)
9. Ketrampilan Sailing (Saat Diam)
10.  Ketrampilan mengambil inisiatif
11.  Ketrampilan memberi nasihat
12.  ketrampilan memberi informasi
13.  Ketrampilan menafsirkan atau interpretasi.

1.    Ketrampilan menyimpulakan.
2.      Ketrampilan merencanakan
3.      Ketrampilan menilai (mengevaluasi)
4.      Ketrampilan mengakhiri konseling
5.      Mengadakan diskusi
3
Masalah
1. Masalah individu yang berhubungan dengan Tuhannya.
2. Masalah individu berhubungan dengan dirinya sendiri.
3. Masalah individu dengan lingkungan keluarga.
4. Masalah individu dengan lingkungan kerja.
5. Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya.
6. Prilaku bermasalah: stres, prilaku kebiasaan dan pertahanan maladaptif (pertahanan kebiasaan yang negatif)



1.Kegagalan individu melakukan hubungan secara vertikal dengan Tuhannya; seperti sulit menghadirkan rasa takut, merasa tidak bersalah atas dosa yang dilakukan, sulit menghadirkan rasa taat, merasa bahwa Tuhan senantiasa mengawasi prilakunya sehingga individu merasa tidak memiliki kebebasan.
2. Kegagalan bersifat disiplin dan bersahabat dengan hati nurani yang selalu mengajak atau menyeru kepada kabaikan dan kebenaran Tuhannya.
3. Kesulitan atau ketidakmampuan mewujudkan hubungan harmonis antara anggota keluarga seperti antara anak dengan ayah dan ibu, adik dengan kakak dan saudara-saudara lainnya.
4. Kegagalan individu memilih pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik pribadinya, kegagalan dalam meningkatkan prestasi kerja, ketidakmampuan berkomunikasi dengan atasan, rekan kerja dan kegagalan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya.
5. Ketidakmampuan melakukan penyesuaian diri (adaptasi)
6. Klien tidak pernah merasa bertanggung jawab menyangkut dirinya dan prilakunya
1.Dampak semuanya itu adalah timbulnya rasa malas atau enggan melaksanakan ibadah dan sulit untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang Tuhan.
2. Dampaknya adalah muncul sikap was-was, ragu-ragu, prasangka buruk (su’udzon), rendah motivasi, dan dalam banyak hal tidak mapu bersikap mandiri.
3. Kondisi ketidakharmonisan dalam keluarga menyebabkan anak merasa tertekan, kurang kasih sayang, dan kurangnya ketauladanan dari kedua orang tua.
4. Masalah yang berhubungan dengan karier misalnya ketidakmampuan memahami tentang karier, kegagalan dalam memilih karier, yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan karakteristik pribadinya.
5. Dengan lingkungan tetangga, sekolah, dan masyarakat atau kegagalan bergaul dengan llingkungan beranekaragam watak, sifat, dan prilaku.
6. klien merasa tidak senang dalam situasi yang kacau dan menampakkan bukti dan respon adaptif dalam situasi yang terstruktur dan agak kompetitif. Kenyataanya, klien rupa-rupanya dapat tumbuh dengan besar pada situasi yang kompetisi ia dapat membuktikan bahwa ia mampu.
4
Metode Teknik Alat
1.      Menentukan masalah
2.       Pengumpulan data
3.       Analisis data
4.       Diagnosis
5.       Prognosis
6.       Terapi
7.       Evaluasi atau Follow Up
8.        Jenis kelompok, untuk Tujuan-tujuan tertentu mungkin diperlukan pembentukan kelompok dengan jumlah anggota yang seimbang antara laki-laki dan perempuan, atau mungkin juga semua jenis kelamin anggota sama.
9.       Umur, pada umumnya dinamika kelompok lebih baik dikembangkan dalam kelompok-kelompok dengan anggota seumur .
10.   Kepribadian, keragaman atau keseragaman dalam kepribadian anggota dpat membawa keuntungan atau kerugian tertentu. Jika perbedaan diantara para anggota itu amat besar, maka komunikasi akan terganggu dan dinamika kelompok juga kurang hangat.
11.   Hubungan awal, keakraban dapat mewarnai hubungan dalam anggota kelompok yang sudah saling bergaul sebelumnya, dan sebaliknya suasana keasingan akan dilaksanakan oleh para anggota yang belum saling kenal.
12.   Untuk kelompok tugas mungkin anggota yang seragam akan menyelesaikan tugas lebih baik. Sebaliknya, bagi kelompok bebas, khususnya dengan Tujuan kemampuan hubungan sosial dengan orang-orang baru, anggota kelompok yang beragam akan lebih tepat sasaran.
13.   Intrumental Input Konselor (pemimpin kelompok), program, dan tahapan, dan sarana merupakan instrumental input bimbingan kelompok. Konselor atau pemimpin kelompok harus menguasai keterampilan dan sikap yang memadai untuk terselenggaranya proses bimbingan kelompok yang efektif. Diantaranya pemimpin kelompok mampu melaksanakan teknik umum dengan istilah “3M” Mendengar dengan baik, memahami secara penuh, dan merespon secara tepat dan positif. Program kegiatan selayaknya dikembangkan sesuai kebutuhan siswa, kondisi objektif sekolah, perkembangan yang terjadi di masyarakat, serta keterampilan dankemampuan konselor di sekolah yang bersangkutan (Wibowo, 2005: 252).
14.   Enviromental Input Kegiatan layanan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan lancar dan terarah, apabila terdapat norma kelompok. Norma kelompok merupakan aturan yang dibuat, dan disepakati serta digunakan dalam kegiatan bimbingan kelompok. Selain itu lingkungan kondusif dalam kelompok juga perlu diciptakan demi tercapainya bimbingan kelompok yang efektif. Lingkungan kondusif yang dimaksud adalah adanya suasana akrab dan hangat yang mewarnai dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan interaksi dinamis antar anggota kelompok dan pemimpin kelompok dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok.

Proses teknik
1.      Persiapan konseling
2.      Teknik-teknik melakukan konseling
3.       Proses Kegiatan layanan bimbingan kelompok terlihat hidup apabila tercipta dinamika kelompok di dalamnya. Dinamika kelompok dapat dimanfaatkan dalam proses interaksi antar anggota dalam membahas topik yang disajikan, sehingga antar anggota dapat terjalin rasa empati, keterbukaan, rasa positif, saling mendukung dan merasa setara dengan anggota lain dalam kelompok tersebut. Oleh karena itu perlu diperhatikan pula peranan yang hendaknya dimainkan oleh anggota maupun pemimpin kelompok. Peran anggota dan pemimpin kelompok dapat dilihat pada uraian dimuka. Agar proses bimbingan kelompok dapat mencapai keberhasilan, perlu disediakan sarana pendukung yaitu merupakan seperangkat alat bantu untuk memperlancar proses bimbingan kelompok. Alat bantu tersebut anta lain ruangan, tempat duduk dan perlengkapan administrasi lainnya (Wibowo, 2005: 154).

1.Persiapan untuk melakukan konseling, riwayat kasus, evaluasi psikodiagnostik.
2. Teknik rapport, prilaku attending, teknik strukturing, empati, refleksi perasaan, teknik eksplorasi, menangkap pesan utama, bertanya, dorongan minimal,interpretasi, mengarahkan, hipotesis, memimpin, fokus, konfrontasi, menjernihkan, memudahkan, diam sebagai suatu teknik, mengambil inisiatif,nasehat, informasi, merencanakan, menyimpulkan, menutup sesi konseling
3.Output Setelah mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok siswa diharapkan memiliki sikap dan keterampilan yang lebih baik. Dalam hal ini siswa diharapkan memiliki kemampuan verbal dan non verbal yang lebih baik. Selain itu siswa diharapkan memiliki keterbukaan, rasa positif, empati, sikap saling mendukung, dan memiliki rasa setara dan kebersamaan yang tinggi. Menurut Amti dan Marjohan (1992: 150) mengemukakan bahwa setelah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok diharapkan anggota mampu mengembangkan sikap dan keterampilan sebagai berikut:
1) Sikap, meliputi tidak mau menang sendiri, tidak gegabah dalam berbicara, ingin membantu orang lain, lebih melihat aspek positif dalam menanggapi pendapat teman-temannya, sopan dan bertanggung jawab, menahan dan mengendalikan diri, mau mendengar pendapat orang lain, dan tidak memaksakan pendapanya.
2) Keterampilan, meliputi mengemukakan pendapat kepada orang lain, menerima pendapat orang lain dan memberikan tanggapan secara tepat dan positif.

5
Ubahan
1.      Flosofis
2.      Psikologis
3.      Paedagogis
4.      IPTEK
5.      Landasan Religius
1. bimbingan konseling harus berdasarkan pengembangan hakikat kemanusiaan
2. Pelaksaan layana bimbingan dan konseling dilaksanakan berdasarkan ilmu-ilmu psikologi yang menjadi dasar sebagai konselor dalam merespon setiap atau seluruh klien atas dasar perbedaan individual.
3. Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling setidaknya berkaitan dengan ilmu kependidikan.
4. Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang selalu berkembang dalam kemajuan zaman.
5. Bahwa pelaksanaan bimbingan dan konseling didasarkan kepada ketentuan-ketentuan dan ajaran agama.
1. Manusia yang sempurna (tidak ada penghinaan dalam manusia, berderajat paling tinggi, manusia diciptakan sebagai makhluk yag bertaqwa, manusia diciptakan sebagai khalifah dibumi, manusia adalah pemilih HAM.
2. Mencakup perbedaan kecerdasan, perbedaan prilaku, perbedaan penguasaan bahasa, serta perbedaan dalam bakat dan minat, serta kecepatan dalam belajar.
3. Pendidikan sebagai upaya pengembangan manusia dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan, pendidikan sebagai proses inti bimbingan dan konseling dan pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan dan konseling.
4. Dukungan perangkat teknologi dalam praktik bimbingan dan konseling antara lain dalam pembuatan instrument dan penggunaan berbagai alat atau media untuk memperjelas materi bimbingan dan konseling.
5. Perubahan klien dalam sikap keberagamaan yang semakin matang dan mantap dan dalam bimbingan konseling klien sudah bisa mengetahui mana yang bertentangan dengan norma agama dan mana yang tidak bertentangan ddengan norma agama.
6
Dukungan Ahli
1. Cacat Fisik/Sakit fisik, lemah fisik.
2. Cacat Psikis
3. NAPZA(narkotika dan zat adiktif lainnya) – parah.
4. Kriminal
5. Mistik.
1.Konselor sudah tidak mampu menangani lagi.
2.Konselor harus mengalihkan kepada ahlinya yang berhak mengatasi masalah klien.
3.Sudah merupakan kode etik dalam layanan konseling bahwa dalam  kegiatan pendukung ada Alih Tangan Kasus (ATK) karena kasus atau masalah tersebut harus di alihkan kepada yang lebih ahli. Konselor tidak berhak menanganinya.
  1. Dokter
  2. Psikolog
  3. Lembaga Narkotika/ Panti Rehabilitas Narkoba.
  4. Polisi.
  5. Paranormal.
7
Dukungan Sarana
1.      Aspek pembiayaan.
2.      Gedung dan ruangan serta alat-alat perlengkapan teknis.
3.      Honorarium personel bimbingan, pemeriharaan sarana fisik.
4.      Pelaksanaan penataran bagi personil bimbingan.
5.      pengadaan alat-alat tes baku.
6.      Pengadaam buku majalah dan bimbingan.
7.      Serta pengadaan alat-alat tulis.
1.      faktor pelaksanaan layanan bimbingan konseling.
2.      Ruangan konseling hendaknya sedemikian rupa sehingga dari segi para klien yang berkunjung keruangan tersebut merasa senang, dan segi lain diruangan tersebut dapat dilaksanakan layanan dan kegiatan bimbingan lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik bimbingan dan konseling
3.      Di dalam ruangan ruangan itu hendaknya juga dapat disimpan segenap perangkat instrumen bimbingan dan konseling himpunan data klien dan berbagai data serta informasi lainnya.
4.      Kenyamanan itu merupakan modal utama bagi kesuksesan pelayanan yang terselenggara.
1.      Alat pengumpulan data baik tes maupun nontes.
2.      Alat penyimpanan data, khususnya dalam bentuk himpunan data.
3.      Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket  bimbingan, alat bantu bimbingan.
4.      Perlengkapan administrasi.
8
Dukungan Administrasi
1.    Diadministrasikannya seluruh kegiatannya
2.    Personalia
3.    Keuangan
4.    Pengawasan
5.    Pembinaan
6.    Pengembangan bimbingan dan konseling secara jelas dan cermat
  1. Mekanisme
  2. Pola  kerja (rapi,teratur, baik)
  3. Kerjasama dengan personil
  4. Program dapat di pertanggungjawabkan

1.    Pencatatan data pribadi klien
2.    Catatan kejadian klien/tingkahlaku klien
3.    Dari hasil observasi dari pihak personil dan kemudian dimasukan dalam buku pribadi klien oleh petugas administrasi bimbingan
4.    Hasil Sosiometri
5.    hasil wawancara
6.    Hasil kunjungan rumah
7.    Hasil pemeriksaan dari petugas-petugas khusus/tenaga ahli
8.    Laporan program
9.    Data-data

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan anda dan kritik anda sangat berarti demi kemajuan saya terimakasih atas saran-saran dari anda semua semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua.... Amiin