Minggu, 20 Januari 2013


PEMBAHASAN
MANUSIA DAN CINTA KASIH



Cinta Kasih

Cinta kasih adalah ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa ,dipertimbangkan oleh akal yang menimbulkan suatu tanggung jawab ,yang perwujudan nya dapat berupa tingkah laku. Cinta kasi yang disertai dengan tanggung jawab dapat menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.
Prilaku cinta kasih dapat muncul dalam bentuk : kemesraan, belas kasihan, kasih sayang atau pengabdian. Cinta kasih tidak dapat diartikan sebagai hubungan asamara yang biasanya diwarnai oleh nafsu, tetapi cinta kasih haruslah dilihat sebagai ikatan hati nurani yang suci terhadap sesuatu secara bertanggung jawab. Cinta kasih adalah anugrah Tuhan, karena cinta kasih akan memperhalus rasa, memperhalus budi, dan memperhalus tindakan. Karena rasa cinta kasih bukan dimunculkan oleh nafsu, maka ia bersifat sakral. Cerminan dari manusia yang telah memiliki cinta kasih adalah rasa sayang atas sesama manusia, rasa sayang atas makhluk-makhluk ciptaan Allah, dan rasa patuh atas semua perintah Allah dan menjauhi larangan nya. Jenis-jenis hubungan cinta kasih bisa diklasifikasikan sebagai berikut :

A. Cinta Kasih Orang Tua terhadap Anak

Secara fitrah, orang tua selalu meginginkan anak nya menjadi orang yang utama menurut kadar pandanga hidupnya masing-masing. Bahkan seorang ” Edy Tanzil ”
( koruptor ) tidak akan suka anak nya menjadi pencuri, atau seorang ” Robot Gedeg ” (penjahat) pun tidak suka menjadi pembunuh dan pelaku sodomi. Ada pepatah ” kasih anak terhadap orang tua sepanjang galah ,kasih ibu sepanjang jalan”. Pepatah tersebut mengkiaskan perbandingan kasih antara anak dan orang tua yang tidak sebanding. Walaupun kebenaran pepatah tersebut tidak mutlak, karena ada kalanya orang tua tega membunuh anak nya atau ada deviasi cinta kasih orang tua terhadap anak nya, namun secara umum pepatah tersebut dapat diterima.

            Anak hendak nya membalas kasih sayang tersebut dengan memenuhi harapan-harapan orang tua. Di dalam islam disebutkan bahwa karena kasih sayang orang tua tiad abatas terhadap anak nya, maka anak tidak boleh berkata ” keras” lebih-lebih membentak kepada orang tua, bahkan digambarkan bahwa ” Ridho Allah sama dengan Ridho kedua orang tua, dan kemurkaan Allah adalah sama dengan kemurkaan kedua orang tuanya ”.

            Cinta kasih ” ibu” dilambangkan sebagai cinta kasih yang sangat tulus, bagi setia bangsa. Bahkan di dalam agama islam, disebutkan bahwa ” surga dibawah telapak kaki ibu ”. Hal ini menunjukkan bahwa cinta kasih orang tua tidak boleh dilupakan begitu saja oleh anak, dan harus disambut dengan budi dan perlakuan yang sangat baik kepada orang tua, dengan cara menghormatinya.

            Secara rasional cinta kasih anak lebih besar jika dibandinngkan orang tua terhadap anak nya, karena seorang anak hanya memiliki 1 ayah dan 1 ibu, sehingga cinta anak terhadap ayah dan ibu nya 100 % , mutlak atau utuh dan tidak terbagi-bagi, sebalik nya cinta orang tua akan terbagi-bagi pada anak-anak nya. Jika orang tua memiliki 3 orang anak, maka masing-masing anak akan mendapatkan cinta kasih sepertiga dari orang tua nya. Di Indonesia rasio seperti ini tidak berlaku, karena kenyataan menunjukkan bahwa rata-rata cinta kasih orang tua jauh lebih besar bila dibandingkan dengan cinta kasih anak terhadap nya. Bentuk rasional tentang kecintaan anak lebih besar dari orang tua tidak bisa diterima. Hal ini wajar saja, karena masalah cinta kasih tidak bisa didekati dengan ” rasio ” , tetapi harus dengan ” rasa”.





B. Cinta Kasih Antara Pria-Wanita

            Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa kejidian bahwa wanita pertama yakni    ” Siti Hawa ” diciptakan dari tulang rusuk ” Adam” , maka apabila terjadi seorang pria yang jatuh cinta yang berupaya mendekati seorang wanita, jangan disalah kan karena sebenarnya ia baru dalam proses mencari tulang rusuk nya yang hilang.

            Cinta kasih antara pria dan wanita, adalah titik awal yang terjadi sebuah unit masyarakat yang paling kecil yang disebut ”keluarga” . Cinta antara pria dan wanita adalah kodrat alam, yang sifat nya sagat fitnah.

            Seorang filsuf Rusia, Salovjev menyatakan ” bila seorang pemuda jatuh cinta kepada seorang gadis secara bersungguh-sungguh, maka dia terlempar dari cintanya terhadap dirinya sendiri, dan ia mulai hidup utuk orang lain”. Dari pernyataan filsuf tersebut bisa ditarik benang merah bahwa sebenarnya cinta-kasih yang murni selalu disertai tanggung jawab, pengorbanan terhadap orang yang dicintai, dan bahkan mengorbankan kepentingan nya sendiri ,sehingga bisa dikatakan bahwa cinta kasih memang sangat tidak rasional.
            Dalam membina cinta untuk menuju cita-bahagia hendaklah bersendikan atas saling :
  1. mengasihi
  2. menyayangi
  3. tulus-ikhlas
  4. percaya
  5. pengertian
  6. jujur
  7. tanggung jawab
  8. rela berkorban
  9. terbuka.

Ke-9 unsur tersebut adalah landasan utama terbentuknya suatu mahligai keluarga yang menuju ke pilar-pilar keharmonisan dan kebahagiaan. Di dalam ajaran islam untuk menuju ke keluarga yang sakinah. Cinta haruslah dimulai dengan melihat ketaqwaan nya terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku adalah penilaian pertama di dalam memilih pasangan hidup, atau penilaian rohaniah dinomorsatukan. Skala prioritas selanjutnya adalah penilaian jasmaniah yakni kecantikan atau ketampanan wajah sebagai toalk ukur kecocokan biologis. Penilaian berikut nya yang jenjang skala nya sama denagn wajah adalah ”keturunan”. Seorang pemuda dan pemudi yang ingin memilih pasangan hidup perlu menilai calo tersebut keturuna siapa ,karena sedikit atau banyak didikan orang tua sangat berpengaruh terhadap perilaku anak. Penilaian ini sebenarnya sudah menjurus pada penilaian sosial dalam skala yang palig kecil, yakni keluarga. Pilihan selanjutnya baru jatuh pada ”harta”, karena hidup berumah tangga tidak hanya bisa dijalankan dengan cinta, berumah tangga memerlukan sarana-prasarana. Penilaian jumlah kekayaan yang dimiliki adalah penilaian ekonomi, yang dampaknya juga akan berakibat perilaku hubunngan sosial. Dengan demikian ajaran ini sangat cocok sebagai pedoman dasar atau dasar acuan dalam membangun rumah tangga.

C. Cinta Kasih antara Sesama Manusia

            Cinta kasih atas sesama manusia didasari oleh perasaan ” welas asih ”, atau balas kasihan. Belas kasihan muncul karena di dalam lubuk hati jiwa manusia terdapat suatu dorongan ikut merasakan kesusahan atau penderitaan orang lain.

            Cinta kasih yang dilandasi persaan ”welas asih” merupakan dasar dalam menciptakan rasa hormat menghormati, kebersamaan, dan pendamaian.

            Cinta kasih yang ”dewasa” bukan berarti mengabulkan segala permintaan orang lain, atau selalu membuat senang orang lain dengan puji-pujian, tetapi harus diletakkan dalam rangka mendidik orang tersebut agar mampu mandiri, menyadari kedudukannya, menyadari kekurangannya, sehingga berbuat yang baik sesuai kadar kemampuannya. Bagaimana mewujudkan cinta kasih tersebut dalam masyarakat hendaknya dilakukan secara bijaksana dan dengan cara yang baik ( bil hikmah wal maungidhatil hasanah ).

            Perkembangan seorang anak yang normal (dalam psikologi) akan sampai pada usia yang disebut dengan ” morale age” , antara 3-5 tahun. Phase tersebut yakni tahun-tahun dimana seoranga anak telah mengenal secara naluriah bahwa berbohong, mencuri, telanjang dimuka orang lain. Perbuatan tercela atau perbuatan yang tidak sopan. Dengan demikian apabila setelah dewasa perkembangan moral anak tidak meningkat tetapi bahkan menurun sehingga melakukan perbuatan seperti : minum-minman keras, vandalisme, deviasi seksual, sadisme, mencuri, bertelanjang, di depan umum dan sebagainya, maka orang tersebut mundur derajat nya menjadi di bawah bayi (pra-moral) yang masih instictive, dan bahkan menjadi di bawah derajad manusia atau bahkan dibawah derajad binatang.

            Hubungan antara manusia dengan manusia lainnnya harus senantiasa diletakkan dalam kesadaran moralnya ( moral consiousness ). Konsekuensi logis dari kesadaran moral ini ialah bahwa dengan kesadaran seseorang dapat :
  • tergugah untuk berbuat baik ,tolong menolong, cinta tanah air ,
  • tergugah ”rasa” kemanusiaannya, ”rasa” persaudaraannya, ”rasa” ingin berkorban bagi kepentingan orang lain, ” rasa ” mau berbuat kebajikan.
  • Membangkitkan ”rasa” introspeksi retropeksi, menganggap diri serba kekurangan ,penuh dosa dan sebagainya.

Cinta kasih sesama manusia adalah merupakan dasar-dasar timbulnya suatu aturan, hukum, adat, mores, dan seluruh peradaban di masyarakat. Dengan pemahaman dan penghayatan cinta kasih sesama manusia yang mendalam akan menghapuskan pertentangan, permusuhan, perkelahian, pembunuhan dan peperangan.

Cinta kasih sesama manusia akan mengekalkan rasa persahabatan ,persaudaraan, dan demokrasi. Cinta kasih sesama manusia juga akan menumbuhsuburkan penghargaan atas hak-hak manusia, melenyapkan dominasi rasa kesukuan, primordialisme, dan nepotisme. Islam mengajarkan bahwa belum sempurna iman seseorang apabila dia belum bisa mencintai saudaranya yang sesama muslim, melebihi cintanya terhadap diri sendiri.

D. Cinta Kasih antara Manusia dengan Tuhan

            Manusia adalah ” home religious” atau makhluk yang yang ber-Tuhan. Dengan demikian kecintaan manusia terhadap Tuhan sebenarnya adalah “ hakekat cintanya terhadap dirinya sendiri “. Dengan mencintai terhadap Tuhan, maka manusia akan berbuat sesuai dengan perintah-perintah Tuhan dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan harapan agar dirinya mendapatkan keidupan yang baik di dunia dan kebaikan di akhirat.

            Kehidupan di akhirat adalah kehidupan yang baka atau kehidupan yana kekal, sedangkan kehidupan di dunia hanya bersifat sementara ,dengan demikian manusia harus lebih memusatkan perhatiannya kepada kehidupan yang kekal dengan baik. Sebaik-baik bekal untuk mempersiapka diri pada kehidupan yang kekal adalah ” taqwa”. Dengan menjauhi larangan nya dan mengikuti segala perintah nya berarti mencintai Tuhan. Dan dengan mencintai Tuhan berarti mencintai dirinya, karena ia akan mendapatkan 2 kebaikan hidup sekaligus, yakni kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat atau ” fi dunya hasanah dan fil akhirati hasanah ” .

            Orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa selalu merasa dirinya dilindungi oleh Tuhan dalam segala sesuatu selain kekuasaan Tuhan. Dengan demikian akan selalu berani karena benar dan takut karena salah. Kepercayaan setiap manusia terhadap Tuhan-Nya tidaklah sama, tergantung pada prkembangan pemikiran dan peradapan manusia tersebut.


KESIMPULAN


Dari berbagai materi yang telah diutarakan diatas bahwa cinta kasih adalah perasaan yang di dukung oleh unsur karsa, dipertimbangkan oleh akal yang menimbulkan tanggungjawab yang perwujudannya dapat berupa tingkahlaku.

Cinta kasih yang disertai dengan tanggungjawab dapat diciptakan keserasian, keseimbagan, dan  kedamaian antara kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan.

Dimana cinta kasih itu ternyata dibagi menjadi empat macam  atau empat bentuk cinta kasih terhadap manusia yaitu:
1. Cinta Kasih  Orang Tua terhadap Anak,
2. Cinta Kasih antara Pria-Wanita,
3. Cinta Kasih antara Sesama Manusia, dan
4. Cinta Kasih antara Manusia dengan Tuhan.

Yang mana manusia dan cinta kasih empat macam tersebut pada hakikatnya manusia sebagai pribadi masuk kedalam dimensi psikologis. Dimensi psikologis mengenai  teori-teori persuasi sudah lama digunakan konsepsi psiko-analisis.


DAFTAR PUSTAKA



Mursitho, Joko. (1996). Ilmu Budaya Dasar : Manusia dan Cinta Kasih.
Metro : Universitas Muhammadiyah Metro.

Bound, Raymond. (1991). Theoris of Social Change, Polity Press: Cambrige  in
            Association with Basil Blackwell, Oxord.

Bakker, Anton. (1986). Metode-Metode Filsafat. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan anda dan kritik anda sangat berarti demi kemajuan saya terimakasih atas saran-saran dari anda semua semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua.... Amiin